Ormas Islam: Tambang, Amanah, dan Masa Depan
Pemerintah lewat Bahlil terus mendorong ormas Islam masuk ke sektor tambang. Narasinya sederhana: tambang adalah strategi kemandirian ekonomi umat. Tapi bagaimana mungkin "kemandirian umat" dibangun dengan merampas tanah adat, merusak laut, dan memutus relasi sosial ekologis yang dijaga ratusan tahun?
Kita bukan hanya menghadapi korupsi lingkungan, tapi juga pembusukan nilai. Bagaimana bisa organisasi yang bicara soal ukhuwah dan rahmatan lil ‘alamin terlibat dalam proyek penghancuran semesta?
Bahlil terus mengulang kata "ekonomi umat" seperti mantra. Tapi dalam praktiknya, ini hanyalah siasat pengalihan, agar publik tak melihat bahwa investasi tambang tetap dikendalikan elite, bukan umat. Ormas-ormas hanya dijadikan bumper politik, bukan pelaku utama ekonomi.
Dalam konteks tambang dan lingkungan hari ini, ormas-ormas Islam tampak bimbang. Mereka bersemangat bicara soal syariah ekonomi, tetapi minim bicara soal ekologi. Mereka aktif dalam dakwah digital, tetapi abai terhadap krisis iklim yang kian nyata.
Menolak Kubangan dengan Jalan Spiritualitas Ekologis
Di tengah krisis iklim global, dunia membutuhkan wajah Islam yang membumi, bukan yang menambang. Umat Islam tak bisa lagi memisahkan antara fikih ibadah dengan fikih lingkungan. Kita butuh eco-fiqh, sebuah pendekatan keislaman yang menyatu dengan visi keberlanjutan dan keadilan ekologis.
Kita tidak menolak pembangunan. Tapi pembangunan yang menghancurkan ekosistem, merusak komunitas adat, dan mencederai nilai agama bukanlah pembangunan melainkan perampokan legal yang disamarkan dengan kata-kata indah.
Kasus Raja Ampat menjadi teguran keras, bahwa tanah, laut, dan hutan bukan milik siapapun, tetapi titipan dari Allah. Bukan hanya kepada pemerintah dan Menteri Bahlil yang terlalu semangat membagi-bagi IUP, tapi juga kepada tokoh-tokoh agama yang larut dalam logika ekstraktif.
Sudah saatnya ormas-ormas Islam, tokoh-tokoh keagamaan, dan intelektual publik seperti Ulil, merefleksikan ulang arah perjuangannya. Agama tak seharusnya jadi selimut kekuasaan, melainkan cahaya bagi kehidupan.
Kita perlu menata ulang relasi antara agama dan alam, antara ibadah dan keberlanjutan, antara dakwah dan ekonomi politik. Dan yang paling penting, kita harus berani berkata tidak ketika kekuasaan mencoba membungkam nurani ekologis kita dengan dalih pembangunan.
Karena pada akhirnya, keberkahan bukan datang dari banyaknya hasil tambang, tapi dari kesadaran untuk menjaga apa yang telah diciptakan Allah dengan cinta dan keseimbangan.