Umar menorehkan sejarah sebagai pembaharu sistem pemerintahan Islam: dari pembentukan lembaga kehakiman, administrasi pajak, sampai pelaksanaan jaminan sosial. Prabowo menilai bahwa dalam dunia yang penuh ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan hukum, sosok seperti Umar sangat relevan untuk dijadikan cermin.
“Tanpa keadilan, kekuasaan akan kehilangan legitimasi,” begitu kira-kira pesan yang disampaikan Prabowo. Sebagai Presiden, ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan keadilan—karena kekuasaan yang tidak adil akan melahirkan pemberontakan, sementara keadilan yang konsisten akan melahirkan kepercayaan dan persatuan.
Muhammad Al-Fatih: Visi Peradaban dan Kepemimpinan Inovatif
Terakhir, Prabowo menyebut Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, sebagai simbol visi dan inovasi kepemimpinan Islam. Muhammad Al-Fatih mempersiapkan penaklukan itu sejak usia muda, dengan disiplin ilmu yang tinggi, strategi militer yang kuat, teknologi militer yang modern, dan aspek spiritual dan keimanan yang kuat kepada Allah Swt.
Kemenangan Al-Fatih bukan sekadar kemenangan militer, tetapi juga kemenangan peradaban. Ia membuktikan bahwa pemimpin Muslim bisa membangun kota modern yang multikultural dan toleran. Prabowo menggarisbawahi bahwa umat Islam tidak hanya harus kuat secara militer, tetapi juga dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban.
Dalam era digital dan geopolitik yang berubah cepat, Prabowo menekankan bahwa pemimpin Muslim harus memiliki visi global, kemampuan teknokratis, dan keberanian mengambil langkah besar, sebagaimana dilakukan oleh Al-Fatih di abad ke-15.
Komitmen terhadap Solidaritas Palestina
Prabowo juga menyuarakan komitmen teguh Negara Indonesia terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Ia menyebut bahwa rakyat Palestina sedang mengalami penderitaan luar biasa dan dunia Islam tidak boleh tinggal diam. Dalam pidatonya yang tegas, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia tidak akan mundur satu langkah pun dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.
Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran keislaman Prabowo tidak hanya bersifat historis atau simbolik, tetapi juga praktis dan kontekstual, terutama dalam diplomasi internasional. Solidaritas terhadap Palestina menjadi bagian dari etika Islam global yang mengedepankan keadilan dan kemanusiaan.
Islam Wasathiyah: Jalan Tengah dalam Diplomasi dan Kepemimpinan
Salah satu poin yang tidak kalah penting yaitu penekanan Prabowo atas pentingnya Islam Wasathiyah: tengah atau moderasi. Dalam menghadapi dunia yang penuh konflik dan ekstremisme, Prabowo menyerukan agar umat Islam menjadikan toleransi, keseimbangan, dan kerja sama lintas bangsa sebagai prinsip utama.
Ia memuji nilai-nilai Islam Nusantara yang selama ini menjadi contoh praktik Islam yang damai dan moderat. Dalam pidatonya, Prabowo ingin mengingatkan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada kemampuannya merangkul perbedaan, bukan memperuncingnya.
Membangun Kepemimpinan Islam yang Berintegritas
Pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Parlemen OKI ke-19 adalah lebih dari sekadar pernyataan politik. Ia merupakan ajakan reflektif untuk membangun kembali peradaban Islam melalui nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para tokoh besar umat Islam.
Dengan menyatukan gagasan persatuan ala Salahuddin, keberanian Khalid bin Walid, keadilan Umar bin Khattab, dan visi Muhammad Al-Fatih, Prabowo merumuskan arah baru kepemimpinan Islam di tengah dunia yang penuh tantangan. Kepemimpinan seperti inilah yang diharapkan bisa membawa umat Islam menuju masa depan yang bermartabat, kuat, dan adil.