PRABOWO SUBIANTO DAN GAGASAN KEPEMIMPINAN ISLAM : DARI SALAHUDIN AL AYUBI HINGGA MUHAMMAD AL FATIH

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 20 Juni 2025 | 12:01 WIB

Oleh : Mujahidin Nur, Direktur Peace Literacy Institute Indonesia & Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri dan Antar Lembaga BKM (Badan Kesejahteraan Masjid)

 

Pidato Prabowo Subianto pada pembukaan Konferensi Parlementary Union of The OIC Member States OKI (Organisasi Konfrensi Islam) ke-19 di Jakarta beberapa hari lalu, membuat kagum ratusan delegasi dari 37 negara OKI. Speech Prabowo Subianto dinilai selaras dengan tema KTT Silver Jubilee MPR OKI bertema "Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience" (Tata Kelola yang Baik dan Lembaga yang Kuat sebagai Pilar Ketahanan). Dalam pidatonya, Prabowo Subianto mengambil inspirasi kepemimpinan melalui pesan-pesan moral-keagamaan dari tokoh-tokoh besar Islam sebagai pilar ketahanan umat Islam.

Kepiawain Prabowo Subianto menjelaskan sejarah Islam dan mengambil inpisrasi dalam kaitannya membangun ketahanan dunia Islam dengan menyebut sejumlah tokoh besar Islam seperti Salahuddin Al-Ayyubi, Khalid bin Walid, Umar bin Khattab, dan Muhammad Al-Fatih mendapatkan standing applause dari para delegasi yang hadir. Menurut Prabowo Subianto dalam membentuk tata kelola negara yang baik dan kuat Prabowo Subianto menajak para pemimpin dunia Islam untuk mengambil inspirasi dari beberapa tokoh besar Islam.

Salahuddin Al-Ayyubi: Persatuan Umat sebagai Kekuatan Strategis

Prabowo memulai pidatonya dengan menyebut nama Salahuddin Al-Ayyubi, sosok yang menjadi simbol kejayaan Islam melalui kekuatan persatuan. Salahuddin, panglima besar dari Dinasti Ayyubiyah, dikenal karena kemampuannya menyatukan umat Islam yang terpecah belah pada masa Perang Salib.

Di tengah konflik politik dan sektarian di Timur Tengah, Salahuddin tampil sebagai pemimpin yang menyatukan Sunni dan Syiah untuk membebaskan Baitul Maqdis melalui pertempuran Hattin (1817 M). Prabowo menyebut, apabila umat Islam ingin kuat dan bermartabat di kancah global, maka jalan utamanya adalah persatuan. Dalam konteks kekinian, di mana dunia Islam dilanda konflik internal, seperti sikap ego sektoral, dan polarisasi politik, pesan ini menjadi sangat penting.

Seperti halnya Salahuddin, Prabowo mendorong agar pemimpin-pemimpin Islam membangun koalisi strategis dan menjadikan solidaritas umat muslim sebagai alat diplomasi yang bermartabat. Hal ini bisa diterjemahkan dengan cara memperkuat kerjasama dalam bidang ekonomi, budaya dan politik untuk memperkuat persatuan umat Islam.

Khalid bin Walid: Ketegasan dan Loyalitas Tanpa Pamrih

Tokoh kedua yang disebut Prabowo adalah Khalid bin Walid (lahir 592 M), panglima perang ternama pada masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, yang dikenal dengan julukan "Pedang Allah yang Terhunus." Dalam pidatonya, Prabowo menekankan bahwa sosok Khalid adalah contoh pemimpin lapangan yang tak hanya memiliki strategi militer cemerlang, tetapi juga kesetiaan yang tak tergoyahkan kepada kebenaran.

Khalid adalah simbol ketegasan. Ia tidak ragu mengambil keputusan sulit di medan perang, tetapi juga tidak mencari pujian atau jabatan untuk kepentingan pribadi. Bahkan ketika dicopot dari jabatan panglima oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalid tetap berjuang di garis depan tanpa protes. "Loyalitas dan pengabdian seperti inilah yang harus dimiliki pemimpin saat ini," kata Prabowo dalam pidatonya.

Melalui Khalid bin Walid, Prabowo ingin menanamkan nilai keberanian, integritas, dan kesetiaan kepada amanah, bukan kepada kepentingan pribadi, keluarga, kelompok apalagi kekuasaan atau popularitas. Ini adalah pesan moral bagi semua pemimpin muslim: jangan berjuang demi nama, tapi berjuanglah demi umat demi masyarakat.

Umar bin Khattab: Keadilan sebagai Fondasi Kepemimpinan

Dalam lanjutan pidatonya, Prabowo menyebut Umar bin Khattab sebagai teladan bagi pemimpin yang mengedepankan keadilan sosial dan moralitas publik. Umar adalah khalifah yang hidup sederhana, tidak membuat batas antara dirinya dan rakyat, dan sangat tanggap terhadap penderitaan kaum miskin.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X