وآله وصحبه (Serta Keluarganya dan Sahabatnya)
وسلم على دوام (Dan Selamatkan secara terus-menerus)
Syaikh Abu Bakar Syatho, ulama kelahiran Mesir di Makkah menjelaskan dalam kitabnya I’anatuth Thalibin menjelaskan bahwa terdapat hadits Nabi Muhammad SAW memerintahkan para Sahabat RA untuk membaca dzikir Laa Ilaaha Illallah Al Maliku Haqqul Mubin sebanyak 100 kali dalam sehari untuk memperlancar rizeki. Syaikh Abu bakar Syatho merupakan mahaguru dari para ulama Nusantara, dan yang memberikan ijazah pergantian nama Muhammad Darwisy menjadi Ahmad Dahlan, yang pada 1912 mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah.
Sunan Geseng lahir dari keluarga bangsawan dan merupakan cicit Brawijaya V yang nama aslinya adalah Girindrawardhana, Maharaja Majapahit yang terakhir. Sehingga dalam dakwahnya, Sunan Geseng selalu melakukan pendekatan kebudayaan untuk menghindari konfrontasi politik termasuk dalam peralihan kekuasaan antara Demak ke Mataram Islam. Sunan Geseng atau Cokrojoyo merupakan anak dari Pangeran Semono yang merupakan anak dari Ki Ageng Pakotesan dan Raden Rara Rengganis II, anak Brawijaya V dan Dewi Rengganis.
Wilayah dakwah Sunan Geseng meliputi kawasan yang saat ini dikenal dengan Mataram Islam (Yogyakarta dan karesidenan Surakarta) dan Mataraman Barat yang meliputi Madiun, Magetan, Bojonegoro, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, dan Tuban. Maka tidak heran di daerah-daerah tersebut syair Sunan Kalijaga yang terinspirasi dari Sunan Geseng sering disenandungkan terutama di waktu antara adzan dan iqamah. (Muqoddas)