Menengok Masjid Al Iman Peninggalan Sunan Geseng Cicit Maharaja Majapahit Terakhir

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Sabtu, 3 Mei 2025 | 23:09 WIB

 

SENAYANPOST – Redaksi Senayan Post pada Jum’at 25 April 2025 berkunjung ke Masjid Al Iman salah satu masjid peninggalan Sunan Geseng di kecamatan Loano kabupaten Purworejo provinsi Jawa Tengah. Tepat ketika adzah Shalat Jum’at akan berkumandang.

Masjid ini didirikan tahun 1472 oleh Sunan Geseng yang merupakan murid Sunan Kalijaga atas perintah gurunya. Bagian pagar depan Masjid Al Iman bercorak batu bata merah. Sebelumnya pernah diganti ubin biru. Menurut warga sekitar, renovasi pagar masjid dengan diganti motif bata merah oleh otoritas kepurbakalaan Provinsi Jawa Tengah, mengembalikan estetika Masjid Al Iman seperti ke masa pembangunannya yaitu masa peralihan antara era Majapahit ke Demak hingga ke era Mataram Islam, dengan melestrikan corak warna pagar era Majapahit yaitu merah bata.

Memasuki masjid dari depan, kita akan menemukan parit kecil yang digunakan untuk mencuci kaki. Biasanya, ada di berbagai masjid klasik di antaranya masjid-masjid era Mataram Islam seperti Masjid Gedhe Yogyakarta serta masjid-masjis Pathok Negoro seperti di Mlangi Sleman dan Kotagedhe. Parit kecil ini mengelilingi bagian depan hingga samping kanan dan samping kiri sebelum memasuki teras masjid.

Bedanya, di Masjid Al Iman bagian parit ada di depan masjid saja, tepat setelah memasuki gerbang. Sedangkan parit bagian kanan dan bagian kiri agak lebar dan lebih dalam. Keduanya digunakan untuk kolam ikan.

Salah satu ciri masjid kuno adalah bedug dan kentungan kayu. Keduanya terletak di sisi kanan bagian depan masjid. Sementara tempat berwudhu dan kamar mandi berada di bagian kanan masjid sekaligus menara masjid.

Serambi beratap limasan itu direnovasi belakangan, pada 1898. Sedangkan 4 (empat) tiangnya masih merupakan tiang lama era Sunan Geseng yang menopang atap tajuq. Otoritas kepurbakalaan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melarang tiang-tiang tersebut dipaku, karena akan merusak nilai arkeologi yang berumur lebih dari 500 tahun.

Sunan Geseng merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga yang nama aslinya adalah Cokrojoyo. Disebut Sunan Geseng karena saat bertapa dalam sujud yang lama di dalam hutan, terjadi kebakaran. Pepohonan sekitarnya rusak dilahap api, dan Cokrojoyo yang tetap sujud di atas batu tidak tersentuh api. Hanya saja, bajunya terkena abu hitam dari arang kayu pepohonan. Dari sini, Cokrojoyo kemudian dinamakan Sunan Geseng. Tempat sujud tersebut saat ini dibangun masjid yang dinamakan Masjid Sunan Geseng di desa Bagelan. Kedua masjid ini masih melestarikan Shalat Tasbih dan Shalawat Kubro yang merupakan warisan Sunan Geseng setiap bakda Shalat Isya di Hari Kamis.

Awal mula pertemuan Sunan Kalijaga dengan muridnya adalah ketika Cokrojoyo sedang menyadap nira tengah bersenandung, lilo, lilo .. lilo, lilo (Bahasa Jawa, artinya sabar, sabar .. sabar, sabar). Oleh Sunan Kalijaga kemudian digubah menjadi laa ilaaha illallaah (Bahasa Arab, artinya Tiada Tuhan Selain Allah). Teirnspirasi dari Sunan Geseng, Sunan Kalijaga kemudian membuat syair campuran Bahasa Arab dengan Bahasa Jawa yaitu :

 

لا إله إلا الله (Tiada Tuhan Selain Allah)

 الملك الحق المبين (Maha Raja Maha Benar Maha Penjelas)

محمد رسول الله (Muhammad Utusan Allah)

 صادق الوعد الأمين (Menepati Janji dan Terpercaya)

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X