Tapi pola aneh mulai muncul. Admin tidak menegur ujaran kebencian, justru cenderung mendiamkan.
Lalu muncul akun-akun yang bekerja seperti buzzer: menyerang, membelokkan, lalu menghilang. Saya mulai sadar—ini bukan diskusi biasa. Ini medan perang narasi.
Puncaknya, ketika saya mencoba mengangkat pandangan ulama besar Sunni, Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al Buthy, saya dituduh sebagai pendukung rezim Assad.
Padahal, kalau kita telaah, posisi Syaikh Al Buthy lebih kepada stabilitas daripada kekacauan.
Ada adagium penting: negara yang stabil bisa melahirkan generasi bebas, sementara kekacauan hanya menanamkan trauma panjang.
Baca Juga: Bersama Prof Nasaruddin Umar
Sama halnya dengan Syaikh Adnan Al-Afyouni, yang berperan sebagai mediator antara berbagai faksi di Suriah. Bukan soal membela siapa, tapi mencari jalan damai.
Akhirnya saya memilih diam. Bukan menyerah, tapi mundur satu langkah untuk melihat peta. Saya mulai bertanya-tanya, apakah yang lain juga menyadari ini?
Apakah publik paham bahwa di balik diskusi di layar HP, ada tangan-tangan yang sedang menggiring opini?
Sekarang saya percaya, bahwa media sosial sudah bukan ruang netral. Ia ladang perang, dan narasi adalah senjatanya.
Kita perlu cermat, jangan hanya ikut arus. Karena sering kali, yang mereka takutkan bukan kita sebagai pembaca, tapi kehilangan kendali atas kerumunan.***
Artikel Terkait
Bersama Prof Nasaruddin Umar
إندونيسيا ستفوز في الحرب الاقتصادية العالمية
Islam, Akal Sehat, dan Perlawanan terhadap Narasi Ekstrem
Presiden Prabowo dan Anak-Anak Palestina
الرئيس برابوو والأطفال الفلسطينيون