SENAYANPOST - Selama lima bulan terakhir, saya ikut diskusi menarik sekaligus intens di sebuah grup Telegram. Bahasannya berat—geopolitik Timur Tengah.
Momen yang memicu semuanya adalah kejatuhan Bashar Al Assad pada 8 Desember 2024.
Peristiwa itu menggemparkan, dan membuat saya penasaran: sebenarnya, siapa yang sekarang memegang kendali di Suriah? Kenapa bisa sampai begitu?
Saya mulai mencari informasi. Dari laporan jurnalis lapangan hingga opini-opini dari tokoh publik seperti Faisal Assegaf, potongan-potongan gambar mulai terbentuk.
Dari situ, saya menyimpulkan satu hal: saya tidak setuju dengan kepemimpinan yang baru.
Baca Juga: Islam, Akal Sehat, dan Perlawanan terhadap Narasi Ekstrem
Bukan tanpa alasan—nama Ahmad Al Sharaa, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Mohammad Al Jolani, punya jejak kelam dalam organisasi teroris yang dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia.
Tapi anehnya, di dunia maya, banyak yang justru mendukungnya. Bahkan, dengan semangat luar biasa.
Saya pun terlibat dalam diskusi yang lebih dalam di grup Telegram. Di sinilah semua jadi menarik sekaligus mengerikan.
Sang pemilik grup terang-terangan menyatakan diri sebagai pendukung kelompok bersenjata yang dulu punya kaitan erat dengan Al-Qaeda.
Awalnya saya kira ini sekadar perbedaan pandangan. Tapi seiring waktu, perdebatan semakin panas.
Siapa pun yang tak sejalan diberi label: Syiah, Assadist, bodoh, bahkan sampai "Geng Captagon".
Baca Juga: Presiden Prabowo dan Anak-Anak Palestina
Tiga bulan pertama saya bertahan. Saya pikir, masih banyak orang yang punya pandangan waras dan bisa berdiskusi sehat.
Artikel Terkait
Bersama Prof Nasaruddin Umar
إندونيسيا ستفوز في الحرب الاقتصادية العالمية
Islam, Akal Sehat, dan Perlawanan terhadap Narasi Ekstrem
Presiden Prabowo dan Anak-Anak Palestina
الرئيس برابوو والأطفال الفلسطينيون