Dari Diskusi Telegram ke Sadar Narasi: Pelajaran Lima Bulan Menyusuri Timur Tengah Virtual

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 29 April 2025 | 18:03 WIB
Ilustrasi, pengalaman diskusi Timur Tengah khususnya Suriah di Telegram, pentingnya tetap kritis di tengah arus informasi yang tak selalu netral. (Unsplash.com/Kyle Glenn)
Ilustrasi, pengalaman diskusi Timur Tengah khususnya Suriah di Telegram, pentingnya tetap kritis di tengah arus informasi yang tak selalu netral. (Unsplash.com/Kyle Glenn)

SENAYANPOST - Selama lima bulan terakhir, saya ikut diskusi menarik sekaligus intens di sebuah grup Telegram. Bahasannya berat—geopolitik Timur Tengah.

Momen yang memicu semuanya adalah kejatuhan Bashar Al Assad pada 8 Desember 2024.

Peristiwa itu menggemparkan, dan membuat saya penasaran: sebenarnya, siapa yang sekarang memegang kendali di Suriah? Kenapa bisa sampai begitu?

Saya mulai mencari informasi. Dari laporan jurnalis lapangan hingga opini-opini dari tokoh publik seperti Faisal Assegaf, potongan-potongan gambar mulai terbentuk.

Dari situ, saya menyimpulkan satu hal: saya tidak setuju dengan kepemimpinan yang baru.

Baca Juga: Islam, Akal Sehat, dan Perlawanan terhadap Narasi Ekstrem

Bukan tanpa alasan—nama Ahmad Al Sharaa, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Mohammad Al Jolani, punya jejak kelam dalam organisasi teroris yang dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia.

Tapi anehnya, di dunia maya, banyak yang justru mendukungnya. Bahkan, dengan semangat luar biasa.

Saya pun terlibat dalam diskusi yang lebih dalam di grup Telegram. Di sinilah semua jadi menarik sekaligus mengerikan.

Sang pemilik grup terang-terangan menyatakan diri sebagai pendukung kelompok bersenjata yang dulu punya kaitan erat dengan Al-Qaeda.

Awalnya saya kira ini sekadar perbedaan pandangan. Tapi seiring waktu, perdebatan semakin panas.

Siapa pun yang tak sejalan diberi label: Syiah, Assadist, bodoh, bahkan sampai "Geng Captagon".

Baca Juga: Presiden Prabowo dan Anak-Anak Palestina

Tiga bulan pertama saya bertahan. Saya pikir, masih banyak orang yang punya pandangan waras dan bisa berdiskusi sehat.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Bersama Prof Nasaruddin Umar

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X