Krisis Suriah Membongkar Kepentingan Para Lord Proxy

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Jumat, 20 Desember 2024 | 19:48 WIB
Berikut profil Abu Mohammad Al Julani yang memimpin penggulingan Bashar Al Assad presiden Suriah yang merupakan eks Al Qaeda. (X.com)
Berikut profil Abu Mohammad Al Julani yang memimpin penggulingan Bashar Al Assad presiden Suriah yang merupakan eks Al Qaeda. (X.com)

 

 

Jamal Husain

Pengamat Politik asal Mesir

 

Apa yang terjadi di Suriah saat ini telah menegaskan kepada dunia internasional bahwa rakyat dan tentara Suriah telah melemah. Tetapi saat ini, berbagai kepentingan-kepentingan asing di Suriah sedang berdamai untuk bernegosiasi. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah, negara-negara adidaya dapat menjual negara sekutunya dalam sekejap dengan imbalan sebuah kesepakatan deni kepentingan nasional negara adidaya tersebut.

Kita semua tahu bahwa milisi-milisi bersenjata di Suriah berbeda-beda dalam jenis ideologi, kepentingan, bentuk kelompok, kekuatan, sumber pendanaan dan penyokong persenjataan, tergantung pada kekuatan, status, dan wilayah kekuasaan mereka, bahkan para lord proxy.

Kita semua melihat bagaimana Rusia menjual sekutu utamanya, rezim Presiden Suriah Basyar Al Asad, dan meninggalkannya dalam sekejap setelah mendukungnya selama 13 tahun sejak meletusnya Arab Spring pada awal tahun 2011 dari Tunisia. Presiden Rusia Vladimir Putin membuat Rusia ditentang semua pihak, hanya karena menyelundupkan dia dan keluarganya ke wilayahnya dan memberinya suaka dengan dalih kemanusiaan.

Iran juga menjual Presiden Suriah Basyar Al Asad karena takut akan proyek nuklirnya setelah melihatnya kemarahan dari Amerika Serikat dan Israel yang menghina, mengungkap aib badan intelijen Iran, membunuh Ismail Haniyeh di dalam salah satu istana kepresidenannya, dan kemudian menghancurkan basis senjata militer Garda Revolusi Iran. Israel juga menumpas Hizbullah di Lebanon dan Suriah. Amerika Serikat dan Inggris membombardir basis Ansharullah Al Houthi di Yaman karena mengganggu jalur pelayaran di bagian selatan Laut Merah.

Jaringan Internasional Ikhwanul Muslimin adalah yang pihak pertama bersorak setelah naiknya Pemimpin Haiah Tahrir Syam Al Qaeda Abu Muhammad Al Jaulani ke tampuk kekuasaan di Suriah. Jaringan Internasional Ikhwanul Muslimin mulai menata ulang kartu-kartunya, membangunkan sel-sel yang tertidur, dan mengintensifkan aktivitas media beserta para buzzer militannya.

Turki terus memperdalam intervensinya dalam urusan Suriah dengan memperluas pengaruh politik dan militernya di wilayah-wilayah perbatasannya khususnya Idlib dan Aleppo. Presiden Turki Recep Tayep Erdogan telah mengatakan bahwa Suriah perlu mengusir para teroris, baik ISIS atau Partai Buruh Kurdistan Turki, sehingga mencapai tahap stabilitas. Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pertahanan Turki mengkonfirmasi kesiapan Turki untuk memberikan dukungan militer dan pelatihan kepada pemerintahan baru Suriah beserta tentaranya.

Turki tentu saja mendukung Pemimpin Haiah Tahrir Syam Al Qaeda Abu Muhammad Al Jaulani untuk mencapai beberapa tujuan strategis, yang salah satunya adalah memperluas pengaruh regionalnya di Suriah dan kawasan Timur Tengah, yang akan memungkinkan Turki memainkan peran lebih besar dalam membentuk masa depan politik dan keamanan Suriah serta memastikan kepulangan pengungsi Suriah yang tinggal di Turki dengan aman dan sukarela.

Paling penting bagi Turki adalah menghadapi ancaman Bangsa Kurdi yang tersebar di Turki, Irak, Suriah dan Iran. Turki menganggap Unit Perlindungan Rakyat Kurdi sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya, dan melalui dukungannya terhadap salah satu proxy Turki yaitu Pemimpin Haiah Tahrir Syam Al Qaeda Abu Muhammad Al Jaulani, Turki berupaya untuk melemahkan pengaruh Unit Perlindungan Rakyat Kurdi di Suriah.

Mengenai pasukan suku-suku Kurdi di Suriah yang bergabung dengan Syrian Democratic Force, kisah mereka adalah sebuah cerita. Sejak Unit Perlindungan Rakyat Kurdi mengambil kendali, hubungan Pemerintah Suriah yang baru dengan Syrian Democratic Force mulai menjadi pusat perhatian yang menguasai wilayah-wilayah basis suku-suku Kurdi di bagian utara dan timur Suriah. Mereka mengambil serangkaian langkah untuk membuktikan niat baik mereka dan menolak gagasan pemisahan diri.

Turki yang merupakan musuh bebuyutan Syirian Democratic Force, bersikeras untuk mengakhiri kekuatan militer dan tidak menerima peran apa pun di wilayah suku-suku Kurdi. Sikap Turki ini mendapatkan keberatan dari Amerika Serikat, yang sejak awal Arab Spring 2011 menganggap Syrian Democratic Army sebagai sekutu terpercayanya. Namun Turki selalu menegaskan bahwa SDF tidak akan mempunyai tempat di Suriah di bawah pemerintahan baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB

Krapyak

Selasa, 21 April 2026 | 22:32 WIB

Muslihat AS Menyerang Iran

Selasa, 14 April 2026 | 17:11 WIB
X