Menuju Filsafat Islam Otentik dengan Mentauladani Nabi Muhammad SAW; Pandangan Filsuf Maroko Toha Abdurrahman

photo author
Mushab Muuqoddas, Senayan Post
- Sabtu, 27 Juli 2024 | 17:45 WIB

 

 

Mush’ab Muqoddas, Lc

Alumni Jurusan Sejarah Fakultas Bahasa Arab Universitas Al Azhar Cairo Mesir

 

Toha Abdurrahman, filsuf asal Maroko, pada Kamis 25 Juli 2024 dalam diskusi di Perpustakaan Negara di Ankara ibukota Turki berusaha megupas biografi Nabi Muhammad SAW dalam buku terakhirnya, Filsafat Biografi Nabi Muhammad SAW; Pondasi Moral.

Toha Abdurahman dalam bukunya menyebutkan bahwa tabiat manusia itu terbatas dan karena keterbatasan itu, biografi Nabi Muhammad SAW hanya dapat dipahami dengan sudut pandang dan metode-metode tertentu seperti dalam kajian para ahli hadits, ahli fikih dan para sejarawan.

Apakah tidak ada cara lain untuk mengambil manfaat dari biografi Nabi Muhammad SAW yang berbeda dari sudut pandang para ahli hadits, ahli fikih dan sejarawan ?

Biografi Nabi Muhammad SAW pada dasarnya adalah etika, yaitu seperangkat nilai. Karena alasan inilah Toha Abdurrahman mengambil tanggung jawab untuk membahas biografi Nabi Muhammad SAW dari sudut pandang filosofis dengan memandang bahwa perilaku Nabi Muhammad SAW harus dipandang sebagai sebuah moral dari pada sekedar fakta dan fenomena. Karena kenabian Nabi Muhammad SAW adalah pesan moral.

Pandangan Toha Abdul Rahman dilandasi dari latar belakang akademisnya karena merupakan seorang profesor logika, filsafat bahasa, dan etika.

 

Sebelumnya, dalam ceramah yang disampaikan oleh filsuf Maroko tersebut pada simposium yang diadakan oleh Pusat Penelitian Islam di Istanbul pada hari Selasa, 23 Juli 2024 yang bertajuk "Bagaimana Membangun Filsafat Islam yang Otentik?" Toha Abdurrahman menyerukan upaya untuk mengembalikan filsafat kepada asal usulnya, yaitu kebijaksanaan.

 

Dalam makalah yang disampaikan dalam kajian tersebut, Toha Abdul Rahman menyebutkan bahwa seorang filsuf tidak akan puas dalam mengenal diri sendiri, dengan mengikuti pendekatan rasional dan jalur moral, untuk mencapai kehidupan yang baik, namunsehingga perlu mencari model yang lebih tinggi di mana kesempurnaan dicapai dan Tuhan dianggap sebagai model tertinggi yang dapat ditiru, karena tidak ada yang lebih sempurna atau lebih bahagia dari-Nya. Sehingga, ‘meniru Tuhan’ menjadi salah satu prinsip berfilsafat secara kognitif, dan jelasnya bahwa filsuf muslim tidak dapat menerima prinsip ini karena tiga alasan yaitu :

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mushab Muuqoddas

Tags

Rekomendasi

Terkini

KH. Imam Jazuli di Antara Kenyataan dan Kritikan

Jumat, 17 Juli 2026 | 18:28 WIB

Gara-Gara Huruf "P"

Jumat, 12 Juni 2026 | 08:15 WIB

Brutu

Senin, 8 Juni 2026 | 13:21 WIB

FA AINA TADZHABUN?

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:58 WIB

Niat Puasa Arafah, Latin dan Artinya

Senin, 25 Mei 2026 | 21:10 WIB

Gema Lonceng Vatikan: Ditubir Perang Dunia

Jumat, 24 April 2026 | 17:19 WIB
X