Melalui media sosial, Denny dan Budhy menggerakkan kelompok lintas iman Esotetika-Spiritual di sosial media.
Baca Juga: One Piece Ungkap Pemilik Nama D Lainnya, Ternyata Terinspirasi dari Cerita Rakyat Irlandia
Sejumlah hari-hari besar agama -- seperti Islam, Budha, Hindu, Kristen, Katholik, Ahmadiyah, Baha'i telah diperingati dengan meriah oleh kelompok esoterika spiritual antariman ini.
Jika Cak Nur bergelut dengan pemikiran-pemikiran Islam yang toleran dan kosmopolitan; Mas Djohan mewujudkannya dalam tindakan toleransi antariman, Budhy langsung "masuk dan menghayati" spiritualitas antariman. Budhy ikut "sembahyang" bersama mereka. Dan merasa memiliki agama mereka.
Itulah sebabnya, banyak kaum agamawan non Islam menganggap Budhy sebagai salah seorang dari tokoh mereka.
Ada seorang biksu yang menyatakan, wajah Budhy yang tenang, cerah, dan penuh senyum, terlihat lebih budhis ketimbang orang Budha.
Baca Juga: Kunjungan 5 Nahdliyin ke Israel Tuai Kecaman, PBNU: Itu Melukai Perasaan Kita Semua
Seorang pastor menyatakan, sosok Budhy lebih katolik ketimbang orang Katolik. Begitu pula, tokoh-tokoh agama lain. Budhy adalah bagian dari mereka. Bahkan melampaui "keimanan" mereka.
Dalam sebuah peringatan Weisak 2024 di Jakarta, penyair Ahmad Gaus yang sudah "membudhy" membacakan puisinya yang sangat Indah tentang agama Budha.
puisi ahmad gaus
SANG BUDDHA
Kukenal dia samar-samar
Buddha Gautama, namanya
Hadir dalam ingatanku sebagai bongkahan batu gunung yang dipahat
Dijadikan patung di kuil raja
Lalu disembah oleh orang-orang musyrik
Di akhirat nanti, mereka akan dipanggang di jurang neraka
Bersama patung yang mereka sembah
Beribu-ribu burung gaib datang silih berganti
Membawa dupa, lilin, makanan, dan air suci
Diletakkan di depan patung yang sedang tenggelam dalam diam
Aku tidak mengerti
Bagiku itu adalah perbuatan syirik, menyekutukan Tuhan
Tapi memang aku menyaksikan sendiri
Bagaimana bulan, bintang, matahari, angin dan petir, tunduk pada ketenangan patung itu
Kuhampiri ia
Kuucapkan kata-kata kasar yang kucuri dari sebuah mimbar
Tapi ia tetap saja diam tanpa ekspresi
Tidak menampakkan kemarahan
Tidak juga keluhan, kesedihan, atau rasa takut.
Kata-kata itu malah berbalik ke arahku
Menghantamku bagai hujan deras yang mengerang
Menceburkan diriku ke samudera pasang
O, betapa dalam
Betapa dalam kebodohanku
Aku tidak pernah tahu siapa yang bersembunyi di tubuh patung itu
Dasar samudera dapat kulihat dengan mata terpejam
Rahasianya dapat kudengar dari ombak yang berdenyut ke tepian
Tapi Sang Buddha seperti batu di Kuil Raja
Yang tidak ingin diketahui
Maka aku menyebutnya sebagai Nabi yang masa bodoh
Guru spiritual yang nyentrik yang tidak ingin punya pengikut
Yang tidak membawa-bawa rantai dan palu untuk menghukum umatnya
Artikel Terkait
Opini: Akan Menguatkah, Tafsir yang Tak Lagi Harus Hewan Dijadikan Kurban Ritus Agama
Opini: Masjid Ramah Lingkungan dan Minyak Jelantah
Opini: Polri dan Firli
Opini: Fikih Kritis dalam Perspektif Climate Change
Opini: Indonesia Darurat Akhlak
Opini: Lomborg, Ekologi, dan Ulil
Opini: Yusril Ihza Mahendra dan Janji-janji Politiknya