PM Benjamin Netanyahu khawatir popularitasnya tersaingi oleh Ben-Gvir dan elemen-elemen politik radikal-ekstrim di Israel yang akan semakin gegabah dalam pertempuran yang akan mengusik dan memancing negara-negara Arab seperti Mesir dan Arab Saudi untuk menyerang Israel.
Bagi PM Benjamin Netanyahu, perang adalah satu-satunya cara mempertahankan kekuasaan dan menghindari dilaksanakannya pemilihan umum. Salah satu figur alternatif yang diinginkan oleh rakyat Israel yang plural adalah Benny Gantz.
Benny Gantz pada tahun 1977 saat itu berpangkat Segen atau Letnan Satu mengawal kedatangan Presiden Mesir Anwar Sadat untuk menyampaikan pidato di Knesset Israel sebagai upaya menyelesaikan Perang Arab-Israel. Presiden Anwar Sadat dan PM Israel Menachim Bagin difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikan Jimmy Carter pada tahun 1979 menyepakati perjanjian damai yang dikenal dengan Camp David.
Dari sini, Benny Gantz berpandangan akan pentingnya perdamaian dan hidup berdampingan dengan Bangsa Arab. Presiden Anwar Sadat berpandangan bahwa eksistensi Israel adalah suatu realitas yang tidak dapat dipungkiri sehingga Bangsa Arab harus hidup berdampingan. Adapun satu-satunya solusi konflik Israel-Palestina adalah Solusi 2 (dua) Negara yang berdampingan.
Solusi 2 (dua) Negara yang berdampingan ini tentu ditentang keras oleh tokoh-tokoh zionis radikal seperti Ben-Gvir yang ingin terus berperang dengan narasi-narasi keagamaan sebagai pembenarannya.
Dari pernyataan PM Benjamin Netanyahu di atas dan tentunya para penganut ideologi radikal-ekstrim di Israel hanya menginginkan para prajurit Israeli Defense Force bertempur habis-habisan hingga amunisi dan prajurit terakhir. Adapun keluarga PM Benjamin Netanyahu dan bahkan keluarga Ben-Gvir diketahui tengah berada di sebuah mansion di Amerika Serikat menikmati keindahan suatu pantai.
Teringat firman Allah SWT :