Baca Juga: Guru Besar UGM Akui Keraton Majapahit Jakarta Miliki Nilai Akademis dan Filosofis
Lapar karena puasa, akan meningkatkan rasa ikhlas untuk bersedekah dan berinfak. Kepada siapa pun yang membutuhkannya.
Jangankan kepada manusia, berderma kepada lalat pun jika itu dilakukan dengan ikhlas, nilainya sorga di timbangan Allah. Itulah esensi pelajaran dari puasa.
Alquran menyebutkan, salat orang Islam sia-sia, bahkan menyebabkannya masuk neraka Weil, jika membiarkan anak yatim kelaparan. Allah tegas menyatakan, orang tak peduli dengan anak yatim, agamanya palsu.
Apalagi seorang pemimpin muslim yang melanggar konstitusi sehingga menyebabkan harga-harga sembako naik tidak terjangkau oleh rakyatnya.
Baca Juga: Ternyata Pemudik Punya Waktu Favorit, yang Bisa Bikin Jalanan Macet
Pemimpin yang zalim konstitusi seperti ini pastilah akan terlempar di neraka Weil. Agamanya palsu. Ibadahnya muspro. Allah akan membakarnya di neraka.
Semoga pemimpin semacam ini cepat tersadar, apa yang dilakukannya sama dengan menghancurkan semesta.
Sehingga ia bertobat dan kembali ke jalan yang benar, yang adil, yang diridhoi Allah. Pada titik inilah kita seharusnya merenungi makna puasa di bulan Ramadhan.
Saat ini kita melihat Ramadhan menjadi bulan takzil war, bulan kemewahan hidangan, bulan berburu pakaian anyar. Bulan lobi politik kotor dan bulan pamer kekuasaan inkonstitusional. Nadzubillah.
Baca Juga: Opini: Kebhinekaan untuk Kemanusiaan
Lalu di mana esensi puasa jika yang muncul hanya busa-busa hedonis destruktif macam itu?
Ya Allah, jauhkan kami dari segala nafsu maruk hedonis pangan, papan, dan kekuasaan yang menyesatkan itu.
Berikan cahaya ikhlas, cinta, dan kasih di bulan Ramadhan ini agar kami bisa bermanfaat untuk sesama makhluk di alam raya, sesuai kehendakMU.***
Artikel Terkait
Opini: Fakta yang Lebih Fiksi dari Fiksi
Opini: Bansos Tanpa Pamrih
Opini: Syariah Islam dalam Kitab Kama Sutra Assikalaibineng
Opini: The Miracle Man, Kisah Masjid Sholawat dan Denny JA
Opini: Yusril Ihza Mahendra, Sang Maha Guru untuk Jabatan
Opini: Kebhinekaan untuk Kemanusiaan
Opini: Kisah Yahudi yang Ingin Berterima Kasih, Keberagaman Agama dan Trisno Sutanto