SENAYANPOST - Dalam wawancara eksklusif dengan televisi publik Swiss, SRF, pada 20 Oktober 2016, Presiden Suriah saat itu, Bashar Al Assad, secara terbuka menyebut tiga negara—Qatar, Turki, dan Arab Saudi—sebagai aktor utama di balik dukungan terhadap kelompok bersenjata oposisi di Suriah.
Wawancara ini kembali menjadi sorotan pada 2025 di tengah meningkatnya narasi pendukung Hayat Tahrir Al Sham atau HTS di berbagai kanal media internasional.
Saat ditanya bagaimana ia menjelaskan perang Aleppo kepada anak-anaknya, Assad menjawab bahwa ia akan menerangkan semuanya.
"Saya akan menjelaskan tentang apa yang terjadi di Suriah, bukan hanya di Aleppo… peran teroris, peran Qatar, Turki, dan Arab Saudi dalam mendukung para teroris tersebut dengan uang, logistik, dukungan, baik melalui persenjataan maupun membantu mereka dengan propaganda dan publisitas. Saya akan menjelaskan kepada mereka secara lengkap apa yang sedang terjadi," kata Assad.
Baca Juga: Ahmad Al Sharaa Sebut Pemutusan Hubungan Suriah dan Iran Tidak Permanen, Ini Tanggapan Teheran
Assad secara eksplisit menuduh negara-negara tersebut bukan sebagai penonton netral, melainkan pihak yang memperpanjang konflik melalui dukungan material dan politik terhadap kelompok pemberontak.
Ketika pewawancara menyatakan bahwa banyak warga Suriah mengungsi karena pemerintah, Assad membantah keras hal tersebut.
"Saya tidak meminta orang untuk meninggalkan Suriah. Saya tidak menyerang orang. Saya membela orang-orang. Orang-orang meninggalkan Suriah karena dua alasan: teroris yang membunuh warga secara langsung dan embargo Barat yang melumpuhkan penghidupan mereka," tegasnya.
Assad juga menolak tuduhan bahwa pasukannya menargetkan rumah sakit di Aleppo.
Baca Juga: Damaskus dan Washington Dibuka Lagi, Menlu Suriah Assad Al Shaibani Akhiri 25 Tahun Vakum Diplomasi
"Ketika mereka bilang kita membombardir rumah sakit, itu artinya kita membunuh warga sipil. Jika pemerintah membunuh rakyatnya sendiri, masyarakat Suriah akan menentang kita dan kita tidak akan mungkin memenangkan perang," ujarnya.
Ia mengklaim mayoritas korban sipil jatuh akibat serangan mortir dari kelompok bersenjata, bukan dari serangan udara pemerintah.
"Mayoritas orang terbunuh oleh mortir yang ditembakkan oleh teroris saat mereka berada di sekolah, di rumah sakit, atau di jalan… terkadang ada pemboman terhadap teroris, tetapi itu tidak berarti setiap bom yang jatuh berasal dari tentara Suriah," tandasnya.
Konteks 2025: Narasi yang Diperebutkan