Satu Tahun Lebih Perang di Ukraina Belum Berakhir, Pemimpin G7 Sepakat Tambah Sanksi untuk Rusia

photo author
Yuda Alexander, Senayan Post
- Jumat, 19 Mei 2023 | 20:17 WIB
Para pemimpin G7 berencana untuk menjatuhkan sanksi lebih banyak kepada Rusia untuk melambatkan mesin perang di Ukraina. (G7 Summit Japan)
Para pemimpin G7 berencana untuk menjatuhkan sanksi lebih banyak kepada Rusia untuk melambatkan mesin perang di Ukraina. (G7 Summit Japan)

Perincian data perdagangan Jerman menunjukkan bahwa ekspornya ke negara-negara yang berbatasan dengan Rusia telah meningkat tajam.

Baca Juga: Dibalik Suksesnya Timnas Indonesia Raih Medali Emas di SEA Games, Ada Orang Tua yang Rela Berhutang

Hal ini memicu kekhawatiran tentang re-ekspor barang dari negara-negara tetangga tersebut.

Kelompok G7 kembali mengecam dengan apa yang sebut agresi Rusia dan menjanjikan dukungan lebih lanjut untuk Ukraina, dalam hal bantuan militer dan bantuan keuangan untuk ekonominya yang hancur akibat perang tahun ini dan tahun depan.

Anggota G7 yang terdiri dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Prancis, Kanada, dan Italia, juga diharapkan memperdebatkan strategi konflik Ukraina yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Baca Juga: Tak Seindah Lagu Ciptaannya, Tabiat Asli Virgoun Dibongkar Inara Rusli: Puasa Wajib Bolong Mulu

Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, yang mewakili Hiroshima di majelis rendah parlemen Jepang, mengatakan dia memilih kota itu untuk pertemuan puncak untuk memusatkan perhatian pada pengendalian senjata.

Hiroshima, dan kota Jepang lainnya, Nagasaki, dihancurkan oleh serangan nuklir AS 78 tahun lalu yang mengakhiri Perang Dunia Kedua.

Zelenskiy akan hadir pada hari Minggu, kata dua pejabat yang terlibat dalam KTT G7, menolak untuk diidentifikasi karena sensitivitas masalah tersebut.

Baca Juga: Sang Pemikat Hati Putra Mahkota Yordan

Oleksiy Danilov, sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, mengatakan kepada televisi pemerintah bahwa kehadiran Zelenskiy 'sangat penting untuk membela kepentingan kami'.

Setelah muncul sebagai negara terkaya di dunia setelah Perang Dunia Kedua, negara-negara demokrasi G7 semakin ditantang oleh China yang berkuasa dan Rusia yang tidak dapat diprediksi.

Para pemimpin diharapkan mengeluarkan pernyataan dengan 'bagian khusus untuk China', daftar masalah yang mencakup 'paksaan ekonomi dan perilaku lainnya', ungkap seorang pejabat AS.

Baca Juga: Sempat Tersendat di Senayan, Arak-arakan Timnas Indonesia U22 Sepulang SEA Games 2023 Disambut Meriah Warga

Mereka berfokus pada bagaimana memperingatkan ekonomi terbesar kedua di dunia terhadap apa yang mereka lihat sebagai ancaman terhadap rantai pasokan global dan keamanan ekonomi tanpa mengasingkan mitra dagang yang kuat dan penting.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yuda Alexander

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X