Amerika Serikat Siapkan 'Sanksi Terberat dalam Sejarah' terhadap Iran, Begini Tanggapan Tiongkok

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:05 WIB
Amerika Serikat baru-baru ini merencanakan sanksi tambahan terhadap Iran yang bisa berdampak pada Tiongkok. (Instagram.com/@potus)
Amerika Serikat baru-baru ini merencanakan sanksi tambahan terhadap Iran yang bisa berdampak pada Tiongkok. (Instagram.com/@potus)

SENAYANPOST - Amerika Serikat (AS) berencana menjatuhkan paket sanksi ekonomi yang disebut sebagai 'sanksi terberat dalam sejarah' terhadap Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan tekanan terhadap Teheran tanpa harus kembali melakukan operasi militer berskala besar.

Pernyataan Bessent disampaikan pada Kamis, sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan mengenai kemungkinan 'Perang Ekonomi' serta konsekuensi ekonomi bagi negara yang memberikan bantuan yang dianggap menopang Iran.

Bessent mengatakan rincian paket sanksi tersebut akan diumumkan pada pekan depan.

Baca Juga: Menlu Iran Kecam Ancaman Ekonomi AS: Kebijakan Gagal Hanya Picu Kekalahan

"Saya tidak yakin mengapa harga minyak melonjak karena hal ini," kata Bessent kepada CNBC pada 21 Agustus 2026, dikutip SenayanPost.com dari The Business Standard.

Menurut dia, penerapan tekanan ekonomi maksimum justru dapat mengurangi kemungkinan kembali pecahnya konflik militer berskala besar.

Pernyataan tersebut turut memengaruhi pasar minyak. Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada Kamis setelah muncul ancaman sanksi baru dari Washington.

Konflik Ganggu Pelayaran di Selat Hormuz

Konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan tersebut telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang pasar energi global.

Iran juga menunjukkan kemampuannya menghambat pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Baca Juga: Cultural Counsellor Kedutaan Besar Iran dan Penulis Syiah Saudara Sekiblat Gaungkan Ukhuwah Islamiah

AS dan Iran sebelumnya telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata, masing-masing pada April dan Juni.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: The Business Standard

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X