SENAYANPOST — Penulis buku "Syiah Saudara Sekiblat", Mush'ab Muqoddas, menemui Cultural Counsellor Kedutaan Besar Republik Islam Iran, Dr. Yahya Jahan Giri. Pertemuan di Kedutaan Besar Iran, Jakarta, ini menyoroti pentingnya literasi guna merawat persaudaraan umat Islam.
Dalam pertemuan singkat tersebut, Mush'ab yang merupakan Anggota Lembaga Dakwah Komunitas PW Muhammadiyah Jawa Timur sekaligus menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Senayan Post menyerahkan langsung karya terbarunya kepada Dr. Yahya. Ia menjelaskan bahwa buku ini lahir untuk mengingatkan kembali umat Islam tentang banyaknya titik temu dalam beragama.
"Latar belakang penulisan buku ini adalah memberikan pemahaman bahwa Syiah merupakan bagian dari umat Islam," ujar Mush'ab.
Ia menekankan bahwa umat Islam dari berbagai mazhab memiliki kesamaan mendasar. Hal ini mencakup kesamaan arah kiblat, tata cara salat, hingga prosesi haji seperti tawaf dan wukuf.
Baca Juga: Hari Kelima Pascabencana Gempa Bumi, Pemerintah Kirim 253 Ton Bantuan Logistik ke NTT
Mush'ab pun mendorong masyarakat untuk memperdalam ilmu kalam setelah menamatkan akidah dasar. Langkah ini dinilai penting agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh narasi perpecahan.
"Jangan sampai kita mempelajari akidah lalu dicampuri dengan pembahasan politik yang justru akan merusak pemahaman dan membingungkan diri kita sendiri," tambahnya.
Merespons hal tersebut, Dr. Yahya Jahan Giri menyambut baik pesan persatuan yang dibawa oleh Mush'ab. Ia memuji Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga koeksistensi antarumat beragama secara rukun.
"Indonesia adalah tanah koeksistensi. Selama berabad-abad, umat Islam di negara ini hidup damai, tidak hanya dengan sesama Muslim, tetapi juga dengan penganut agama lain," ungkap Dr. Yahya.
Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Ungkap soal Pembatasan Pertalite, Wanti-wanti Terkait Hal Ini
Ia mengingatkan masyarakat agar lebih mengandalkan tradisi damai warisan leluhur. Dr. Yahya turut mewanti-wanti adanya potensi campur tangan pihak asing yang sengaja datang untuk memicu konflik.
Terkait keberagaman mazhab, Dr. Yahya mengkritik keras sikap sebagian kelompok yang gemar menghakimi pihak lain tanpa dasar pengetahuan yang utuh.
"Tanpa pemahaman yang utuh, kita tidak berhak menghakimi orang lain. Masalah yang sering terjadi adalah kita hanya mendengar nama suatu mazhab, lalu langsung mengevaluasi tanpa tahu kebenarannya," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa umat Islam harus memahami secara detail budaya kelompok lain dan mengapa mereka meyakininya hingga ke akar sejarah.
Artikel Terkait
Pengamat: Gegara Ini, Dunia Barat Sebar Kebohongan soal 'Perpecahan Sunni dan Syiah'
Syiah Israel dan Yahudi Iran
Mendagri dan Delegasi Syiah Suriah Bahas Cara-cara Peningkatan Keamanan dan Stabilitas
Ditulis Bukan untuk Warga Syiah
Iran dan Oman Klaim Kemajuan Positif dalam Pembahasan Pengaturan Pelayaran Selat Hormuz