Salah satu tujuan kesepakatan tersebut adalah memulihkan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya mengakhiri konflik.
Namun, kedua kesepakatan tersebut kemudian gagal bertahan.
Bessent menyebut paket sanksi terbaru sebagai bagian dari strategi tekanan ganda terhadap Iran.
Ia juga merujuk pada blokade angkatan laut AS terhadap Iran yang diberlakukan sejak April dan sempat dihentikan selama sekitar satu bulan pada pertengahan Juni.
“Kita memiliki blokade dan kita akan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah,” ujar Bessent.
Ia mengatakan langkah tersebut ditujukan untuk memberikan tekanan besar terhadap pemerintahan Iran.
Baca Juga: Iran dan Oman Klaim Kemajuan Positif dalam Pembahasan Pengaturan Pelayaran Selat Hormuz
Iran Kecam Sanksi AS
Iran telah menghadapi berbagai sanksi ekonomi AS selama hampir lima dekade, sejak Revolusi Islam pada 1979.
Kementerian Luar Negeri Iran kembali mengecam kebijakan sanksi dan pembatasan perdagangan AS.
Teheran menyebut kebijakan tersebut sebagai 'terorisme ekonomi' dan menegaskan bahwa tekanan tersebut tidak akan mengubah tekad rakyat Iran dalam mempertahankan kemerdekaan, martabat, dan kedaulatan nasional.
Sementara itu, Bessent mengatakan rincian mengenai paket sanksi akan disampaikan dalam konferensi pers pada Senin mendatang.
China Berpotensi Terdampak
Rencana sanksi AS juga berpotensi memengaruhi hubungan Washington dengan Tiongkok.
Artikel Terkait
Amerika Serikat Dinilai Langgar Nota Kesepahaman Islamabad, Dubes Iran untuk Pakistan Minta Dunia Kecam Serangan
Menlu Iran Abbas Araghchi Bantah Negosiasi Jadi Penyebab Perang: AS-Israel Gunakan Jalur Militer Setelah Gagal di Meja Perundingan
Iran dan Oman Klaim Kemajuan Positif dalam Pembahasan Pengaturan Pelayaran Selat Hormuz
Cultural Counsellor Kedutaan Besar Iran dan Penulis Syiah Saudara Sekiblat Gaungkan Ukhuwah Islamiah
Menlu Iran Kecam Ancaman Ekonomi AS: Kebijakan Gagal Hanya Picu Kekalahan