Negosiasi AS dan Iran di Islamabad Buntu, Ketua Parlemen Ghalibaf Sebut Ada Krisis Kepercayaan antara Washington dan Teheran

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Minggu, 12 April 2026 | 22:04 WIB
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf berkomentar usai negosiasi AS dan Iran berakhir buntu di Islamabad. (X.com/@mb_ghalibaf)
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf berkomentar usai negosiasi AS dan Iran berakhir buntu di Islamabad. (X.com/@mb_ghalibaf)

SENAYANPOST - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf memberikan pernyataannya usai negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) di Islamabad, Pakistan belum lama ini.

Ghalibaf menggarisbawahi bahwa ada krisis kepercayaan antara Washington dan Teheran setelah beberapa kali putaran negosiasi yang berakhir dengan serangan militer.

Menurut Ghalibaf, setelah negosiasi terbaru berakhir buntu, Washington harus memutuskan apakah mereka bisa mendapatkan kepercayaan dari Teheran.

 

Dalam sebuah unggahan di X, yang diterbitkan setelah pembicaraan, Ghalibaf mengatakan Iran memasuki negosiasi dengan 'itikad baik dan kemauan', tetapi menekankan bahwa kurangnya kepercayaan, yang dibentuk oleh pengalaman dua perang sebelumnya di Iran, tetap menjadi hambatan utama.

"Rekan-rekan saya… mengajukan inisiatif yang berwawasan ke depan, tetapi pihak lawan pada akhirnya gagal mendapatkan kepercayaan delegasi Iran dalam putaran negosiasi ini," tulis Ghalibaf pada 12 April 2026, dikutip SenayanPost.com dari Al Mayadeen English.

Baca Juga: 21 Jam Berunding, Pertemuan AS dan Iran di Islamabad Berakhir Tanpa Kesepakatan

Krisis kepercayaan bayangi negosiasi

Pernyataan Ghalibaf muncul setelah 21 jam pembicaraan intensif yang dimediasi oleh Pakistan gagal menghasilkan terobosan, dengan kedua pihak tetap berbeda pendapat mengenai isu-isu kunci, termasuk hak Iran untuk pengayaan uranium, masa depan persediaan nuklirnya, dan pertanyaan regional yang lebih luas.

Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat telah memahami 'logika dan prinsip' Iran, tetapi menekankan bahwa beban sekarang terletak pada Washington untuk menunjukkan apakah mereka dapat menerjemahkan pemahaman itu ke dalam langkah-langkah membangun kepercayaan.

Pejabat Iran itu membingkai diplomasi sebagai bagian dari strategi nasional yang lebih luas, menggambarkan negosiasi sebagai 'metode lain dari diplomasi otoritas, di samping perjuangan militer', yang bertujuan untuk melindungi hak-hak bangsa Iran.

Baca Juga: UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan untuk Tiga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Diplomasi terkait dengan pertahanan nasional

Selaras pernyataan para pejabat Iran lainnya, Ghalibaf menghubungkan jalur diplomatik dengan apa yang ia gambarkan sebagai 'pertahanan nasional' Iran baru-baru ini, berjanji bahwa upaya untuk mengkonsolidasikan pencapaiannya tidak akan berhenti.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Al Mayadeen English

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X