SENAYANPOST – Kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump kini dinilai semakin keras dan sulit ditebak. Pakar politik Rusia memperingatkan bahwa harapan awal untuk menciptakan perdamaian dunia melalui jalur negosiasi mulai berganti menjadi ancaman kekuatan militer yang agresif.
Dalam artikel yang diterbitkan oleh media Russian Today pada Senin, (16/3/26), Dmitry Trenin, seorang profesor riset dari Higher School of Economics, menyoroti perubahan sikap Trump.
Menurutnya, Trump telah meninggalkan "janji awal pragmatisme" miliknya. Dulu, Trump berjanji akan bersikap lebih praktis dengan fokus membenahi ekonomi Amerika Serikat saja ketimbang ikut campur urusan negara lain.
Sikap praktis ini awalnya didukung penuh oleh Gerakan MAGA (Make America Great Again), yaitu basis pendukung setia Trump yang menginginkan slogan "Utamakan Amerika". Mereka berharap Trump tidak lagi menjadi "polisi dunia" dan lebih memilih berbisnis daripada berperang.
Baca Juga: Terciduk Buka Tablet saat Rapat, Kepala BGN Jambi Bantah Main Game: Itu Aplikasi Pekerjaan
Trenin juga menyebut hilangnya "Semangat Anchorage". Istilah ini merujuk pada hasil pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Presiden Vladimir Putin di Anchorage, Alaska, pada awal 2026.
Pertemuan itu sempat memunculkan harapan besar bahwa perang di Ukraina bisa segera berakhir melalui kesepakatan damai yang saling menguntungkan.
Namun, harapan itu kini meredup. Trenin menilai Amerika Serikat justru menunjukkan "hegemoni baru yang agresif", yaitu upaya untuk kembali menguasai dunia secara sepihak dengan cara-cara yang menekan, termasuk serangan militer terhadap infrastruktur Iran dan intervensi di Venezuela.
"Trump adalah pria yang memperlakukan kata-katanya sebagai milik pribadinya; sesuatu yang bisa dia berikan atau tarik kembali sesuka hati," tulis Trenin dalam artikelnya yang dikutip oleh Russian Today.
Baca Juga: Dukung Fatwa Muhammadiyah, Muhadjir Effendy: Pengalihan Dam ke Tanah Air Efektif Atasi Stunting
Ia menegaskan bahwa Trump kini menjadi mitra yang sulit dipercayai dalam perjanjian internasional. Trenin menganalisis bahwa perubahan sikap ini terjadi karena Trump mendapat tekanan politik di dalam negerinya sendiri. Untuk mempertahankan kekuasaan, Trump dianggap mulai mengikuti kemauan kelompok garis keras di Washington yang lebih menyukai konflik bersenjata.
Menanggapi situasi ini, Pihak Kremlin atau kantor kepresidenan Rusia di Moskow, kini mulai bersikap lebih waspada. Rusia disarankan untuk tidak lagi bergantung pada janji-janji diplomatik dari Washington.
"Satu hal yang pasti: Amerika Serikat tidak akan berhenti kecuali jika ada kekuatan yang menghentikannya," pungkas Trenin dalam analisisnya.
Rusia kini diprediksi akan lebih memilih memperkuat aliansi militer dan ekonomi dengan negara-negara di Asia seperti Tiongkok dan India sebagai langkah antisipasi. *
Artikel Terkait
Rusia Sambangi Suriah, Tawarkan Mediasi dengan Israel Penjajah
Menlu Assad Al Shaibani: Hubungan Suriah dan Rusia Dalam, Tapi Kurang Seimbang
Usai Melawat ke Rusia, Prabowo Segera Kunjungi Medan Guna Prioritaskan Percepatan Penanganan Bencana
Rusia Mediasi Pembicaraan antara Iran dan Israel Akhir 2025, Menlu Sergey Lavrov: Kami Selalu Siap, Jika Diminta
Konflik AS dan Iran Memanas, Rizal Mallarangeng: Rusia dan Tiongkok Tak Akan Turun Tangan Militer