Citrinowicz: Iran Paham Posisi Lemahnya, Tapi Merasa Tak Punya Pilihan Lain

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Kamis, 19 Februari 2026 | 22:03 WIB
Pengamat keamanan Timur Tengah menilai para pemimpin Iran di tengah negosiasi program nuklir dengan AS. (Dok. ICJ)
Pengamat keamanan Timur Tengah menilai para pemimpin Iran di tengah negosiasi program nuklir dengan AS. (Dok. ICJ)

Meskipun begitu, Citrinowicz mengatakan bahwa Iran masih punya ruang gerak taktis.

Mereka bisa saja memberikan akses inspektur internasional ke fasilitas sensitif seperti Natanz atau Fordow, atau menegaskan lagi larangan agama terhadap senjata nuklir.

Baca Juga: Presiden Prabowo Adakan Pertemuan Perdana Board of Peace untuk Upayakan Perdamaian di Gaza

Terkadang mereka juga memberikan sinyal transparansi, walau hanya sementara.

Tapi langkah-langkah ini, menurut Citrinowicz, sebenarnya hanya gestur taktis.

Bukan konsesi strategis yang besar, dan tetap jauh dari apa yang diminta AS.

Pada akhirnya, posisi maksimal Iran sepertinya tidak bertemu dengan syarat minimal yang diinginkan pemerintah AS sekarang.

"Jika Iran harus memberikan konsesi di luar batas maksimal yang mereka tetapkan sendiri, itu bukan hanya soal mengganti kebijakan. Itu bisa dibilang seperti keruntuhan ideologis dan politik. Taruhannya kelangsungan rezim sendiri," ujarnya.

Jadi, menurut dia, situasinya bukan soal salah perhitungan atau salah paham. Masalah utamanya memang pilihan Iran yang terbatas.

Baca Juga: Menilik Kasus Korupsi Benjamin Netanyahu, Bikin Warga Israel Terpecah Belah

"Ini bukan tentang salah paham. Ini soal pilihan yang memang sempit," tulis Citrinowicz.

Dia juga menambahkan, para pemimpin Iran tidak menutup mata dengan dinamika politik di AS.

Jika situasi makin panas, mereka tahu tekanan politik di dalam negeri AS bisa membuat pemerintahan di sana—apalagi presiden yang tidak mau terlibat konflik panjang—lebih milih mencari de-eskalasi cepat.

"Dari sudut pandang Teheran, bertahan itu strategi," katanya.

Citrinowicz menutup analisanya dengan mengingatkan, dalam pandangan Iran atas konflik sebelumnya—termasuk yang dia sebut Perang 12 Hari—sekadar bertahan dan tidak kalah saja sudah dianggap sukses bertahan secara strategis.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: X @citrinowicz

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X