Pengamat Keamanan Timur Tengah: Pembicaraan Nuklir Iran dan AS di Oman Hampir Pasti Buntu

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Kamis, 5 Februari 2026 | 20:45 WIB
Pengamat keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz menilai pembicaraan nuklir antara Iran dan AS di Oman dipastikan buntu. (Unsplash.com/Mostafa Meraji)
Pengamat keamanan Timur Tengah Danny Citrinowicz menilai pembicaraan nuklir antara Iran dan AS di Oman dipastikan buntu. (Unsplash.com/Mostafa Meraji)

SENAYANPOST - Pengamat keamanan Timur Tengah, Danny Citrinowicz menilai peluang tercapainya kesepakatan dalam pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung di Oman sangat kecil.

Menurutnya, bahkan jika pertemuan tersebut benar-benar terjadi, dinamika terbaru menunjukkan bahwa negosiasi berada di ambang kegagalan.

Bahkan jika pertemuan di Oman benar-benar terjadi, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa peluang tercapainya kesepakatan sangat rendah," tulis Citrinowicz pada 5 Februari 2026, dikutip SenayanPost.com dari X @citrinowicz.

Ia menegaskan bahwa akar masalahnya bukan sekadar perbedaan posisi teknis, melainkan kesenjangan persepsi yang jauh lebih dalam dan berbahaya antara kedua pihak.

Baca Juga: AS Tembak Jatuh Drone Iran, Donald Trump Sebut Pembicaraan dengan Teheran Masih Berlanjut

"Penyebab utamanya bukan hanya jarak posisi, tetapi kesenjangan yang jauh lebih dalam dan berbahaya dalam cara masing-masing pihak memandang satu sama lain," ujarnya.

Dari perspektif Iran, Citrinowicz menjelaskan bahwa Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei memandang situasi saat ini sebagai bagian dari ancaman eksistensial terhadap rezim.

Konfrontasi militer terbaru, gelombang protes domestik, dan ketegangan dengan AS dilihat sebagai satu rangkaian yang saling terhubung.

"Dari sudut pandang rezim, ini bukan tantangan yang terpisah, melainkan front-front yang saling terkait dalam perjuangan yang lebih luas untuk mempertahankan kelangsungan rezim," tulis Citrinowicz.

Dalam kerangka berpikir tersebut, Khamenei dinilai tidak memiliki insentif untuk berkompromi atas prinsip-prinsip yang ia anggap sebagai fondasi ideologis Republik Islam.

Baca Juga: Hindari Perang Besar, AS Pilih Tunda Serangan Militer ke Iran

"Menghadapi realitas ini, ia lebih memilih mengambil risiko serangan daripada memberikan konsesi yang, dalam pandangannya, akan melemahkan fondasi sistem," kata Citrinowicz.

Sebaliknya, Washington dinilai berangkat dari asumsi bahwa Iran telah melemah secara strategis, ekonomi, dan domestik akibat konflik terbaru dan tekanan internal.

"Di Washington, terdapat keyakinan bahwa pelemahan ini, jika dikombinasikan dengan tekanan militer berkelanjutan dan proyeksi kekuatan, pada akhirnya akan memaksa Teheran menerima persyaratan Amerika—bukan hanya soal nuklir, tetapi juga rudal dan proksi regional," ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: X @citrinowicz

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X