SENAYANPOST - Pengamat Iran dari Foreign Affairs, Afshon Ostovar, menilai bahwa jika Republik Islam Iran mengalami keruntuhan, proses tersebut kemungkinan besar tidak akan terjadi melalui revolusi rakyat yang cepat, melainkan melalui keretakan internal elit yang berkembang secara bertahap sebelum akhirnya meledak secara tiba-tiba.
Dalam analisisnya, Ostovar mencatat bahwa dalam beberapa pekan terakhir Iran menghadapi tantangan domestik paling serius dalam hampir lima dekade.
Ratusan ribu warga turun ke jalan menentang pemerintahan Republik Islam.
Namun, alih-alih terpecah, elit politik Iran justru menunjukkan persatuan yang kuat dalam menghadapi gelombang protes tersebut.
Menurut Ostovar, hingga saat ini tidak terlihat adanya perlawanan terbuka dari kalangan elit terhadap penindakan keras aparat keamanan, termasuk atas jatuhnya korban sipil dalam jumlah besar.
Para pemimpin dari berbagai faksi, baik reformis maupun garis keras, justru menyalahkan kekerasan pada campur tangan asing.
Meski demikian, Ostovar menekankan bahwa di balik layar tekanan terhadap sistem semakin besar.
Para pejabat Iran, menurutnya, memahami bahwa negara berada dalam kondisi rapuh akibat krisis ekonomi kronis, korupsi sistemik, serta ancaman eksternal, termasuk pernyataan Presiden AS Donald Trump yang berulang kali mengancam akan menggulingkan pemerintahan di Teheran.
Baca Juga: Dubes Iran Ungkap Proyek Berdarah Mossad dan CIA: 2.427 Aparat dan Sipil Jadi Korban
"Dalam kondisi seperti ini, sebagian elit memiliki insentif untuk menyelamatkan diri dengan menyingkirkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei," tulis Ostovar pada 22 Januari 2026, dikutip SenayanPost.com dari Foreign Affairs.
Jika keretakan elit benar-benar terjadi, Ostovar memperkirakan perubahannya akan berlangsung cepat dan tanpa tanda-tanda awal yang jelas.
Ia menilai kudeta elit—bukan revolusi rakyat—sebagai skenario paling realistis dalam jangka pendek.
Namun, Ostovar menegaskan bahwa perubahan tersebut hampir pasti tidak akan melahirkan demokrasi.
Artikel Terkait
Rusia Mediasi Pembicaraan antara Iran dan Israel Akhir 2025, Menlu Sergey Lavrov: Kami Selalu Siap, Jika Diminta
AS dan Iran Saling Ancam, Menlu Abbas Araghchi Peringatkan Risiko Konfrontasi Total
Dubes Iran Bongkar Infiltrasi Amerika dan Israel dalam Demonstrasi
Dubes Iran Ungkap Proyek Berdarah Mossad dan CIA: 2.427 Aparat dan Sipil Jadi Korban
Tidak Ada Kantor Garda Revolusi Diduduki Demonstran, Sumber Senayan Post di Iran Ungkap Kondisi Iran Kini