Hampir 100 orang tercatat telah diculik atau dihilangkan di Suriah sejak awal tahun, dengan laporan penghilangan paksa baru terus berlanjut, ungkap kantor hak asasi manusia PBB pada hari Jumat.
"Sebelas bulan sejak jatuhnya pemerintahan sebelumnya di Suriah, kami terus menerima laporan yang mengkhawatirkan tentang puluhan penculikan dan penghilangan paksa," ujar juru bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) Thameen Al-Keetan kepada para wartawan di Jenewa pada 7 November 2025, dikutip SenayanPost.com dari Reuters.
OHCHR telah mendokumentasikan setidaknya 97 orang yang telah diculik atau dihilangkan sejak Januari tahun ini, dan mengatakan sulit untuk memastikan angka yang akurat.
Jumlah terbaru ini merupakan tambahan dari lebih dari 100.000 orang yang hilang di bawah Presiden Bashar al-Assad yang digulingkan, kata Al-Keetan.
1.400 Warga Sipil Tewas di Pesisir Suriah
Kejahatan perang kemungkinan besar dilakukan oleh anggota pasukan pemerintah sementara maupun oleh para pejuang yang setia kepada mantan penguasa Suriah selama pecahnya kekerasan sektarian di wilayah pesisir Suriah yang berpuncak pada serangkaian pembantaian pada bulan Maret, temuan tim penyelidik PBB dalam sebuah laporan pada hari Kamis.
Sekitar 1.400 orang, sebagian besar warga sipil, dilaporkan tewas dalam kekerasan yang terutama menargetkan komunitas Alawi, dan laporan pelanggaran terus berlanjut, menurut laporan Komisi Penyelidikan PBB untuk Suriah.
"Skala dan kebrutalan kekerasan yang didokumentasikan dalam laporan kami sangat meresahkan," kata Paulo Sérgio Pinheiro, Ketua Komisi, dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersamaan dengan laporan tersebut pada 14 Agustus 2025, dikutip SenayanPost.com dari Al Monitor.
Penyiksaan, pembunuhan, dan tindakan tidak manusiawi terkait perlakuan terhadap korban tewas didokumentasikan oleh tim PBB yang mendasarkan penelitiannya pada lebih dari 200 wawancara dengan para korban dan saksi serta kunjungan ke lokasi kuburan massal.
Insiden di wilayah pesisir tersebut merupakan kekerasan terburuk yang melanda Suriah sejak jatuhnya Presiden Bashar al-Assad tahun lalu, yang mendorong pemerintah sementara untuk membentuk komite pencari fakta.
Tidak ada komentar publik langsung terkait laporan tersebut, baik dari otoritas sementara maupun dari mantan pejabat Suriah, yang banyak di antaranya telah meninggalkan negara itu.
Investigasi Reuters bulan lalu menemukan hampir 1.500 warga Alawi Suriah—sekte minoritas Assad—telah terbunuh dan mengidentifikasi rantai komando dari para penyerang langsung hingga orang-orang yang bertugas bersama para pemimpin baru Suriah.
Presiden sementara Suriah, Ahmad Al Sharaa, sebelumnya mengecam kekerasan tersebut sebagai ancaman terhadap misinya untuk menyatukan negara dan berjanji untuk menghukum mereka yang bertanggung jawab.
Artikel Terkait
Alasan Ahmad Al Sharaa Diundang AS, Jeffrey Sachs: Ini Hasil Operasi CIA 14 Tahun Gulingkan Pemerintah Suriah
Ahmad Al Sharaa Jadi Presiden Suriah Pertama yang Datangi Gedung Putih, Temui Donald Trump Sejak Merdeka Tahun 1946
Utusan Khusus AS untuk Suriah: Damaskus Bakal Bantu Kami Hadapi dan Bongkar Sisa-sisa ISIS, IRGC, Hamas, dan Hizbullah
'Pernah ke Suriah' Bukan Ijazah Geopolitik: Membedah Bias Influencer di Media Sosial
Pernah Diburu AS, Presiden Sementara Suriah Ahmad Al Sharaa Sebut Label Teroris Sering Dipolitisasi