Opini: Menilik Klaim Jihad HTS di Suriah, antara Ilusi Perlawanan dan Realitas Penindasan

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Jumat, 8 Agustus 2025 | 18:06 WIB
Penulis menjelaskan bagaimana HTS yang dipimpin Abu Muhammad Al Julani mendefinisikan jihad yang realitanya adalah bughot. (X.com)
Penulis menjelaskan bagaimana HTS yang dipimpin Abu Muhammad Al Julani mendefinisikan jihad yang realitanya adalah bughot. (X.com)

Oleh: Yuda Alexander
(Penulis adalah kontributor opini dan pengamat isu Timur Tengah)

SENAYANPOST - Beberapa tahun terakhir, sebagian kalangan di Indonesia menggandrungi narasi 'jihad' yang diklaim dilakukan oleh Hay'at Tahrir al-Sham (HTS) di Suriah.

HTS dianggap sebagai mujahid, pembela rakyat, bahkan simbol perlawanan Islam.

Terlebih lagi, pimpinan HTS, Abu Muhammad Al Julani—yang kini dikenal dengan nama Ahmad Al Sharaa—telah naik ke puncak kekuasaan di Suriah, menjadi presiden sementara menggantikan Bashar Al Assad yang berhasil digulingkannya melalui aliansi militer dan tekanan luar pada 8 Desember 2024.

Penulis mengamati, setelah Al Sharaa menjabat sebagai presiden sementara, kampanye atau propaganda sang presiden sebagai 'mujahid' semakin masif di media sosial Indonesia.

Baca Juga: Suriah Bakal Gelar Pemilu Pemilihan Anggota Parlemen Pasca Jatuhnya Bashar Al Assad, Aktivis Demokrasi Khawatirkan soal Ini

Tidak sedikit yang mengagung-agungkannya dan berharap untuk membebaskan Palestina yang saat ini dijajah oleh Israel, sesuai dengan pernyataannya saat ia memimpin HTS.

Kembali lagi ke pokok pembahasan, benarkah HTS berjihad mengatasnamakan Islam? Apakah jihad yang dimaksud memiliki legitimasi dari otoritas ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Atau sekadar slogan kosong dari pewaris tradisi bughot modern?

Sejarah HTS

Dikutip dari Center for Strategic and International Studies, Hay'at Tahrir Al Sham (HTS atau "Organisasi untuk Pembebasan Syam") berawal dari perang saudara Suriah dan tetap menjadi kekuatan oposisi yang berbahaya selama konflik tersebut.

Pada Mei 2018, kelompok ini ditambahkan ke dalam daftar Organisasi Teroris Asing (FTO) yang ditetapkan oleh Departemen Luar Negeri untuk pendahulunya, afiliasi Al Qaeda, Jabhat Al Nusra.

Baca Juga: Presiden Donald Trump Klaim Sanksi Suriah Dicabut Gegara Netanyahu

Kini, HTS dapat dianggap sebagai organisasi teroris Suriah yang relatif terlokalisasi, yang mempertahankan ideologi Salafi Jihadi meskipun telah memisahkan diri dari Al Qaeda pada tahun 2016.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X