Netanyahu Tolak Mentah-mentah Negara Palestina yang Berdaulat, Sebut akan Hancurkan Israel di Masa Depan

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 9 Juli 2025 | 18:03 WIB
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak negara Palestina yang berdaulat, menyebutnya jadi ancaman besar negaranya. (X.com/@IsraeliPM)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak negara Palestina yang berdaulat, menyebutnya jadi ancaman besar negaranya. (X.com/@IsraeliPM)

Banyak yang menuduh Israel telah menghancurkan prospek negara Palestina melalui peningkatan pembangunan permukiman di Tepi Barat dan dengan meratakan sebagian besar Gaza selama perang saat ini. Israel membantah hal ini.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Hadiri Peringatan Hari Asyura, Seminggu setelah Perang dengan Israel

Para menteri kabinet di partai Likud milik Netanyahu menyerukan minggu lalu agar Israel mencaplok Tepi Barat yang diduduki Israel sebelum masa reses Knesset pada akhir Juli.

Para politisi Israel yang pro-pemukim telah menjadi berani dengan kembalinya Trump ke Gedung Putih, yang telah mengusulkan agar warga Palestina meninggalkan Gaza, sebuah saran yang dikecam secara luas di seluruh Timur Tengah dan sekitarnya.

Perang Gaza meletus ketika Hamas menyerang Israel selatan pada Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang, menurut penghitungan Israel.

Sekitar 50 sandera masih berada di Gaza, dengan 20 orang diyakini masih hidup.

Serangan Israel berikutnya terhadap daerah kantong Palestina tersebut telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan Gaza.

Baca Juga: Rudal Balistik Iran Dilaporkan Hantam Lima Lokasi Militer Israel selama Perang 12 Hari

Sebagian besar penduduk Gaza telah mengungsi akibat perang.

Trump menjamu Netanyahu dalam jamuan makan malam di Gedung Putih pada hari Senin, sementara pejabat Israel mengadakan negosiasi tidak langsung dengan Hamas di Qatar yang bertujuan untuk mengamankan gencatan senjata Gaza yang ditengahi AS dan kesepakatan pembebasan sandera.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X