AS Ultimatum Israel dan Hamas, Kesempatan Terakhir Gencatan Senjata di Gaza

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Senin, 19 Agustus 2024 | 19:04 WIB
AS ultimatum Israel dan Hamas untuk segera mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza disampaikan oleh Menlu Antony Blinken. (Twitter.com/@SecBlinken)
AS ultimatum Israel dan Hamas untuk segera mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza disampaikan oleh Menlu Antony Blinken. (Twitter.com/@SecBlinken)

Ada ketidaksepakatan mengenai keberadaan militer Israel yang berkelanjutan di Gaza, khususnya di sepanjang perbatasan dengan Mesir, mengenai kebebasan bergerak warga Palestina di dalam wilayah tersebut, dan mengenai identitas dan jumlah tahanan yang akan dibebaskan dalam pertukaran.

Hamas menuduh Netanyahu pada hari Minggu 'menggagalkan upaya mediator', dan Turki mengatakan setelah bertemu dengan utusan Hamas bahwa kelompok penguasa Gaza telah mengatakan kepadanya bahwa pejabat AS 'menggambarkan gambaran yang terlalu optimis' tentang perundingan tersebut.

Netanyahu mengatakan kepada kabinet Israel pada hari Minggu bahwa pihaknya sedang melakukan negosiasi dan bukan skenario di mana mereka hanya memberi dan memberi.

Perang di Gaza dimulai pada 7 Oktober tahun lalu ketika pejuang Palestina menyerbu perbatasan ke komunitas Israel.

Baca Juga: Israel Penjajah Klaim Tewaskan 19 Teroris di Sekolah Al Tabiin, 100 Orang Lebih Warga Gaza Syahid

Insiden tersebut menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik sekitar 250 sandera menurut penghitungan Israel.

Terbaru diketahui bahwa Israel diduga kuat melakukan Arahan Hannibal agar warganya tidak menjadi sandera musuh.

Setelah insiden 7 Oktober itu, Israel meratakan sebagian besar wilayah Gaza, mengusir hampir seluruh dari 2,3 juta penduduknya dari rumah mereka, menimbulkan kelaparan dan penyakit yang mematikan, dan menewaskan sedikitnya 40.000 orang menurut otoritas kesehatan Palestina.

Badan utama PBB di Gaza, UNRWA, mengatakan pada hari Senin bahwa 207 stafnya telah tewas sejak perang dimulai.

"Mereka adalah insinyur, guru, staf medis. Mereka adalah pekerja kemanusiaan," kata UNRWA dalam sebuah pernyataan.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X