"Ada banyak hal yang harus dilakukan di sini," katanya.
Baca Juga: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh Dimakamkan di Doha Qatar
Ia sambil menunjuk risiko "serangan balasan" dari Iran atau salah satu proksinya.
"Selain itu, kita harus ingat bahwa Israel sekarang akan bernegosiasi dengan Yahya Sinwar, yang merupakan pemimpin politik baru Hamas," imbuh Salhut, mengacu pada pengganti Haniyeh.
"Ia dianggap garis keras. Benjamin Netanyahu dianggap garis keras. Ia telah melakukan negosiasi ini sebelumnya dengan beberapa hal yang tidak dapat dinegosiasikan dan telah menambahkannya ke dalam daftar itu," lanjutnya.
Namun, dalam pernyataan hari Kamis, Qatar, Mesir, dan AS mengatakan bahwa inilah saatnya untuk segera memberikan bantuan kepada rakyat Gaza yang telah lama menderita serta para sandera yang telah lama menderita dan keluarga mereka.
Baca Juga: Khalid Misyal Jadi Kandidat Kuat Pengganti Ismail Haniyeh, Isi Kursi Kepala Biro Politik Hamas
"Tidak ada lagi waktu yang terbuang atau alasan dari pihak mana pun untuk menunda lebih lanjut," kata negara-negara tersebut.
Pernyataan tersebut ditandatangani oleh Presiden AS Joe Biden, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, dan Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani dari Qatar.
Marwan Bishara, analis politik senior Timur Tengah, mengatakan pernyataan tersebut menunjukkan negara-negara yang menjadi penengah sudah kehabisan kesabaran.
"AS didorong untuk memberikan tekanan yang lebih besar karena ancaman perang regional yang lebih luas," jelas Bishara.***
Artikel Terkait
Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza Buntu, Pejabat Mesir Ungkap Penyebabnya
Hamas Bantah Mundur dari Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza, Sebut Netanyahu Halangi Kesepakatan
Update Gencatan Senjata di Gaza, AS Ungkap Ada Masalah Ini
Hamas Tanggapi Pidato Netanyahu di Kongres AS, Sebut Perdana Menteri Israel Tak Ingin Gencatan Senjata
Gara-gara Ini, Negosiator Top Israel Mundur dari Pembicaraan Gencatan Senjata di Gaza