Pihaknya menambahkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan meningkat karena banyaknya korban yang hilang di bawah reruntuhan rumah yang menjadi sasaran.
PRCS juga menyebutkan jumlah ambulans yang tersedia tidak mencukupi untuk menyelamatkan korban luka setelah malam berdarah di Rafah.
Media Palestina melaporkan bahwa pasukan pendudukan Israel menargetkan Masjid al-Houda di kamp Yibna di Rafah, serta Masjid al-Rahma, tempat sejumlah besar pengungsi Gaza berlindung.
Wartawan yang berada di lokasi menyatakan bahwa dalam waktu satu jam, Rafah berubah menjadi zona perang karena menjadi sasaran puluhan serangan udara Israel, menambahkan bahwa beberapa orang yang gugur dan terluka telah diangkut ke Rumah Sakit Abu Yousef al-Najjar di kota tersebut, yang hanya memiliki sekitar 30 orang.
Tempat tidur memberikan perawatan untuk semua yang terluka.
Sekitar 1,4 juta warga Palestina memadati Rafah, banyak yang tinggal di tenda-tenda sementara makanan, air dan obat-obatan semakin langka.
Dalam konteks terkait, perwakilan Hamas di Lebanon Ahmad Abdul Hadi mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa invasi Rafah akan memicu reaksi besar di wilayah tersebut dan akan meningkatkan perang melebihi apa yang diinginkan Amerika Serikat.
Dia mengindikasikan bahwa ancaman Netanyahu mengenai Rafah, sebagian ditujukan untuk 'memaksa kelompok perlawanan berkompromi dengan kondisi di Rafah'.***
Artikel Terkait
Hamas Segera Keluarkan Sikap soal Gencatan Senjata dan Pertukaran Tawanan dengan Israel
Tentara IDF Mundur Teratur dari Gaza Utara, Hamas Turunkan Petugas Polisi dan Bayar Gaji Pegawai Negeri
Israel Klaim Separuh Pejuang Hamas Dikalahkan, PM Benjamin Netanyahu Janjikan Kemenangan Secepatnya
Hamas Tawarkan Gencatan Senjata 3 Tahap dalam 135 Hari ke Israel, Begini Isinya
PM Israel Benjamin Netanyahu Tolak Usulan Gencatan Senjata, Bakal Terus Bombardir Gaza Sampai Hamas Kalah