108 Hari Perang, Lebih dari 25.000 Orang Syahid di Gaza Akibat Kampanye Genosida Israel

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 23 Januari 2024 | 14:15 WIB
Sudah lebih dari 25.000 syahid di Gaza akibat genosida Israel, belum ada tanda-tanda negara Zionis itu akan menghentikan serangannya. (Twitter.com/@UNRWA)
Sudah lebih dari 25.000 syahid di Gaza akibat genosida Israel, belum ada tanda-tanda negara Zionis itu akan menghentikan serangannya. (Twitter.com/@UNRWA)

Hal ini disampaikan dalam sebuah laporan dari organisasi non-pemerintah ActionAid memperingatkan.

LSM tersebut melaporkan bahwa beberapa perempuan pengungsi di Rafah sangat putus asa sehingga mereka terpaksa memotong bagian-bagian kecil dari tenda yang mereka andalkan sebagai tempat berlindung untuk digunakan sebagai produk darurat, sehingga berisiko terkena infeksi.

Kurangnya air memperburuk situasi, sehingga hampir mustahil bagi perempuan untuk menjaga kebersihan.

Beberapa wanita melaporkan tidak mandi selama berminggu-minggu.

Baca Juga: 100 Hari Genosida Israel di Gaza, Abu Ubaidah Juru Bicara Brigade Al Qassam Sebut Ratusan Perwira IDF Tewas!

"Tidak ada air. Saya menderita selama menstruasi. Tidak ada air yang tersedia untuk saya bersihkan selama menstruasi. Saya tidak punya pembalut untuk kebutuhan saya sendiri selama menstruasi," kata seorang warga pengungsi di Gaza.

Karena Rafah saat ini menampung lebih dari satu juta pengungsi, lebih dari empat kali lipat populasi biasanya, dan berada dalam kondisi yang sangat padat, privasi adalah sebuah kemewahan.

UNRWA memperkirakan tempat penampungan di Rafah hanya memiliki satu toilet untuk setiap 486 orang, sehingga menyebabkan antrian panjang.

Adara, ibu empat anak yang menjadi pengungsi, berbagi pengalamannya di tengah krisis ini.

Baca Juga: Hamas Kecam Keras Insiden Penyerangan Staf Telekomunikasi Gaza oleh IDF, Sebut Kejahatan Perang

"Kami sangat menderita setiap kali kami ingin pergi ke kamar mandi. Kami mengantri lama sekali, dan kamar mandinya jauh," ujarnya.

Kurangnya air, ditambah dengan kelangkaan sabun, memaksa perempuan dan anak perempuan untuk menggunakan produk atau penggantinya lebih lama dari waktu yang aman, sehingga menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Quds News Network

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X