108 Hari Perang, Lebih dari 25.000 Orang Syahid di Gaza Akibat Kampanye Genosida Israel

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Selasa, 23 Januari 2024 | 14:15 WIB
Sudah lebih dari 25.000 syahid di Gaza akibat genosida Israel, belum ada tanda-tanda negara Zionis itu akan menghentikan serangannya. (Twitter.com/@UNRWA)
Sudah lebih dari 25.000 syahid di Gaza akibat genosida Israel, belum ada tanda-tanda negara Zionis itu akan menghentikan serangannya. (Twitter.com/@UNRWA)

SENAYANPOST - Korban syahid Palestina di Gaza akibat genosida Israel terus bertambah selama 108 hari agresi negara Zionis.

Dilaporkan sebanyak lebih dari 25.000 orang syahid sebagaiman disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Minggu.

Menurut juru bicara Kementerian Kesehatan, Ashraf Al Qidra, setidaknya 178 jenazah dibawa ke rumah sakit Gaza selama 24 jam terakhir bersama dengan hampir 300 orang terluka.

Sementara itu, PBB menyampaikan bahwa perempuan dan anak-anak adalah korban utama dalam pembantaian Israel yang sedang berlangsung.

Sebagaimana dilansir SenayanPost.com dari Quds News Network, sekitar 85 persen penduduk Gaza telah meninggalkan rumah mereka, dan ratusan ribu orang memadati tempat penampungan dan tenda yang dikelola PBB di bagian selatan wilayah pesisir kecil tersebut.

Baca Juga: 100 Hari Agresi Israel ke Gaza, Abu Ubaidah Sebut Kelompok Perlawanan Bakal Perluas Operasi Badai Al Aqsa

Para pejabat PBB mengatakan seperempat dari 2,3 juta penduduknya kelaparan karena hanya sedikit bantuan kemanusiaan yang masuk karena pertempuran dan pembatasan yang dilakukan Israel.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan total 25.105 warga Palestina telah tewas di wilayah tersebut sejak 7 Oktober, dan 62.681 lainnya terluka.

Al Qidra mengatakan banyak korban masih terkubur di bawah reruntuhan akibat serangan Israel atau di daerah di mana petugas medis tidak dapat menjangkau mereka.

Yang lebih parah lagi, agresi tersebut telah mengakibatkan hampir 2 juta orang terpaksa mengungsi dari seluruh Jalur Gaza.

Sebagian besar pengungsi tersebut dipaksa oleh Israel ke kota Rafah di bagian selatan yang padat penduduknya dekat perbatasan dengan Mesir, yang telah menyebabkan banyak korban jiwa. menjadi eksodus massal terbesar Palestina sejak Nakba 1948.

Baca Juga: KRI dr Radjiman Wedyodiningrat 992 Siap Berlayar ke Gaza, Kasal: Tinggal Tunggu Izin Mesir

Minimnya Bantuan Kemanusiaan yang Masuk

Di tengah kondisi kemanusiaan yang sangat buruk dan kekurangan produk menstruasi di Gaza, perempuan dan anak perempuan memilih cara yang tidak aman untuk menjaga kebersihan menstruasi mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Sumber: Quds News Network

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X