Usulan Mesir juga akan membuat Kairo, bersama Doha dan Washington, terlibat dalam negosiasi untuk membentuk pemerintahan teknokratis untuk memimpin Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
Usulan tersebut merupakan rencana gencatan senjata yang paling luas dan terperinci sejak perang di Gaza dimulai pada bulan Oktober.
Baca Juga: Full Berbahasa Arab, Ulama Al Azhar Mesir Gelar Pelatihan Fatwa
Namun tampaknya rencana tersebut tidak akan mendapat dukungan dari pihak-pihak yang bertikai.
Kabinet perang Israel dijadwalkan membahas usulan tersebut pada Senin malam, namun seorang diplomat Barat mengatakan kepada Associated Press bahwa kabinet Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemungkinan tidak akan menerima usulan tersebut secara keseluruhan.
Netanyahu juga berjanji untuk melanjutkan kampanye militer di Gaza, dengan tujuan melenyapkan Hamas.
"Kami memperluas perjuangan dalam beberapa hari mendatang… ini akan menjadi perjuangan yang panjang dan belum selesai," kata Netanyahu pada 25 Desember 2023, dikutip SenayanPost.com dari Middle East Eye.
Baca Juga: Oshi no Ko: Sosok Misterius yang Bantu Hikaru Kamiki dalam Pembunuhan Ai Hoshino
Pada saat yang sama, beberapa pejabat Mesir mengatakan kepada Reuters bahwa Hamas dan Jihad Islam menolak usulan agar mereka berdua melepaskan kekuasaan mereka di Gaza.***
Artikel Terkait
As Sisi Jelaskan Normalisasi Hubungan Mesir-Turki ke PM Yunani
Mantan Pimpinan JI Mesir Ungkap ISIS dan Al Qaeda Wait and See di Pertempuran Gaza
Otoritas Palestina : Mesir Tolak Keras Keinginan Israel Periksa Bantuan Kemanusiaan
Pendukung Ganjar Pranowo di Luar Negeri Makin Luas, Diaspora Indonesia di Mesir Deklarasi Dukung Paslon Nomor 3
Full Berbahasa Arab, Ulama Al Azhar Mesir Gelar Pelatihan Fatwa