SENAYAN POST - Rusia menanggapi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang belum lama ini berlangsung di Lithuania.
Menurut Rusia, KTT NATO baru-baru ini menunjukkan bahwa aliansi militer Barat yang mengarah ke 'skema Perang Dingin'.
Dalam hal itu, Rusia siap untuk menanggapi segala ancaman 'dengan segala upaya' yang diperlukan setelah KTT NATO itu juga membahas soal Ukraina.
Baca Juga: Tim Produksi King the Land Rilis Permintaan Maaf Usai Adegan Kontroversial Episode 7 dan 8
Komentar Rusia itu datang setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengatakan di akhir KTT itu bahwa Presiden Vladimir Putin memiliki 'ambisi untuk tanah dan kekuasaan' dan sayangnya memberikan penilaian yang salah dengan mendukung Ukraina.
"Ketika Putin, dan hasratnya yang mendambakan tanah dan kekuasaan, melepaskan perang brutalnya di Ukraina, dia bertaruh NATO akan pecah … Tapi dia salah berpikir," kata Joe Biden pada 13 Juli 2023, dikutip SenayanPost.com dari Al Jazeera.
Joe Biden menegaskan bahwa NATO lebih kuat dan bersatu dari sebelumnya setelah pandemi Covid-19.
"NATO lebih kuat, lebih bersemangat, dan ya, lebih bersatu dari sebelumnya dalam sejarahnya. Memang, lebih vital untuk masa depan kita bersama," lanjutnya.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Rabu malam bahwa hasil pertemuan NATO akan 'dianalisis dengan hati-hati' untuk ancaman yang ditimbulkan terhadap keamanan Rusia.
"Dengan mempertimbangkan tantangan dan ancaman terhadap keamanan dan kepentingan Rusia yang telah teridentifikasi, kami akan menanggapi secara tepat waktu dan tepat, dengan menggunakan segala cara dan metode yang kami miliki," kata Kemenlu Rusia dalam pernyataan resminya.
Baca Juga: Verrell Bramasta Jadi Bakal Caleg Milenial, Siap Majukan Jawa Barat?
Kekuatan Barat bertekad untuk membagi 'dunia menjadi demokrasi dan otokrasi', kata kementerian itu, menambahkan bahwa 'garis bidik dari kebijakan mencari musuh ini ditujukan ke Rusia'.
Kementerian tersebut juga mengatakan bahwa NATO terus menurunkan ambang batas penggunaan kekuatan sambil meningkatkan ketegangan politik dan militer dengan memasok Ukraina dengan persenjataan yang lebih kuat dan canggih.
Artikel Terkait
Vladimir Putin Tuding Tentara Bayaran Wagner 'Pengkhianat' di Tengah Perang Rusia Ukraina, Ada Apa?
25.000 Tentara Wagner Group Siap Mati, Belot Pasukan Vladimir Putin di Perang Rusia Ukraina
Zalenky Sebut Rusia Tak Berdaya Hadapi Serangan Tentara Bayaran Wagner
Bahas soal Perang Rusia Ukraina Bersama Jokowi, Prabowo Subianto Ungkap Beberapa Petunjuk dari Presiden
500 Hari Lebih Perang Rusia Ukraina, PBB Catat 9.000 Warga Sipil Tewas, 500 di Antaranya Anak-anak