Tentu saja, kita berharap, di tahun setelah KTT Iklim Dubai, Indonesia menepati janjinya. Kalau tidak, bumi yang menghadapi krisis iklim karena global warming yang berlebihan akan mencapai titik ambang kehancurannya.
Baca Juga: Hizbullah Kirim Roket Salvo ke Kiryat Shmona, Buntut Serangan Pasukan IOF ke Warga Sipil Lebanon
Sistem iklim di Bumi mempunyai banyak titik kritis, antara lain hilangnya lapisan es dan hancurnya hutan tropis. Sulit, bahkan mustahil, memulihkan sistem ini jika kondisi destruktif itu telah melampaui titik kritisnya.
Kini, perubahan iklim ekstrim menempatkan kehidupan di Bumi dalam bahaya. Ini karena mendekatnya sejumlah titik kritis tersebut.
Catatan Global Tipping Points Report (GTPP) yang ditulis lebih dari 200 peneliti iklim dunia melaporkan di hadapan peserta KTT Dubai, bahwa Titik kritis ini menimbulkan ancaman besar yang belum pernah dihadapi umat manusia sebelumnya.
Dr. Timothy M Lenton, ilmuwan dari Global Systems Institute, yang memimpin 200 peneliti iklim tersebut memaparkan kondisi bumi sekarang sedang diambang kiamat.
Baca Juga: Drakor My Demon Episode 9 Sub Indo Kapan Tayang? Lengkap dengan Link Nonton dan Spoiler
Pada awal tahun 2000-an, serangkaian elemen kritis pertama kali didentifikasi.
Diprediksi elemen kritis itu tercapai sepenunya saat suhu global 4 derajat Celsius di atas suhu era pra-Revolusi Industri (1850), jika titik ambang kritis itu terlewati, kerusakan bumi akibat global warming tidak bisa dipulihkan lagi.
Upaya perbaikan bumi tidak akan berhasil, karena titik ambang kritis terlewati, ujar Lenton prihatin.
Salah satu sumber energi yang emisi karbonnya tinggi adalah migas. Tapi anehnya, Indonesia belum mau melepaskan ketergantungan pada fossil fuel tersebut, termasuk meningkatkan kapasitas energi baru terbarukan (EBT).
Dari 118 negara yang telah menyepakati komitmen peningkatan kapasitas EBT tiga kali lipat atau tripling renewable di COP 28, nama Indonesia tidak ada.
Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Harris Yahya, salah satu utusan Indonesia dalam bidang energi di COP28, menjelaskan, tawaran itu muncul dari Uni Eropa.
Selain meningkatkan kapasitas EBT, mereka juga mengajak untuk menggandakan target efisiensi energi atau doubling energy efficiency. Sampai saat ini, Indonesia belum memutuskan untuk bergabung.
Artikel Terkait
Opini: Ekonomi Indonesia Sentris dan Keadilan Ekonomi
Opini: Yogyakarta dan Sri Sultan dalam Memperjuangkan NKRI
Opini: KTT Iklim Dubai Mencari Solusi dengan Kolaborasi, Bagaimana Indonesia?
Opini: Demokrasi dan Pilihan Rakyat
Opini: Cinta yang Tak Sampai kepada Gadis, Anak dari Tokoh yang Dicap Aktivis PKI
Opini: Geert Wilders Menang, Islam di Belanda Meradang
Opini: Haul Gus Dur di Tengah Badai Kehancuran Hukum dan Demokrasi