Baca Juga: Viral di Media Sosial, Ini Profil Abu Ubaidah Juru Bicara Brigade Al Qassam Hamas
Perekonomian Sulteng pun tumbuh 13,18 persen pada triwulan 1-2023, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,03 persen.
Tapi ironis, tingkat kemiskinan di Sulteng di tahun yang sama mencapai 12,41 persen. Jauh di atas tingkat kemiskinan nasional yang sebesar 9,36 persen.
Kenapa terjadi anomali? Kenapa ekonomi hilirisasi nikel tidak menyentuh rakyat kecil? Lalu, siapa yang menikmati nilai tambah dan manfaat hilirisasi tersebut?
Jawabnya, ekonomi hilirisasi ternyata hanya berputar di tangan kaum elit. Pinjam istilah Faisal Basri, ekonom Universitas Indonesia, pundi-pundi hilirisasi berada di tangan oligarki.
Baca Juga: 8 Simbol Perjuangan Rakyat Palestina Beserta Artinya, Nomor 4 Jarang Banyak yang Tahu!
Rakyat tidak merasakannya. Bahkan rakyat makin menderita akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan pertambangan nikel. Laut dan sungai di Maluku Utara, misalnya, kini tecemar limbah industri nikel tadi. Menyedihkan!
Dari gambaran tersebut, ternyata hilirisasi nikel hanya menguntungkan sekelompok elit. Rakyat mayoritas justru menderita. Bagaimana solusinya?
Pemerintah harus mereformasi kebijakan hilirisasi. Program peningkatan ekonomi rakyat di wilayah pertambangan dan industri nikel harus menjadi prioritas.
Jadi, program ekonomi hilirisasi jangan hanya cuan untuk ekonomi oligarki. Tapi juga cuan untuk ekonomi rakyat yang merintih.***
Artikel Terkait
Indonesia Punya Cadangan Nikel Terbesar di Dunia, Jadi Peluang Berkembangnya Industri Electric Vehicle
Presiden Jokowi Ungkap Hilirisasi Industri Nikel di Indonesia Bisa Melebihi Rp 8 Ribu Triliun
Ganjar Pranowo Sebut Hilirisasi Industri Demi Kemandirian Ekonomi: Nilai Tambahnya Signifikan
Opini: Pertambangan Nikel, Mobil Listrik, dan Pencemaran Lingkungan