Opini: Di Balik Pelarangan TikTok di Amerika Serikat

photo author
Yuda Alexander, Senayan Post
- Kamis, 13 Juli 2023 | 20:27 WIB
Ilustrasi, opini anggota DPR RI Dr H.M Amir Uskara mengenai pelarangan TikTok di Amerika Serikat yang salah satunya dikhawatirkan untuk spionase. (Pixabay.com/antonbe)
Ilustrasi, opini anggota DPR RI Dr H.M Amir Uskara mengenai pelarangan TikTok di Amerika Serikat yang salah satunya dikhawatirkan untuk spionase. (Pixabay.com/antonbe)

Terbukti setelah China datang, konflik itu bisa diselesaikan. Diplomasi damai China di Asia makin mendapatkan apresiasi positif dari dunia internasional yang cinta damai.

Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Status Terkini Ponpes Al Zaytun Usai Panji Gumilang Terseret Kasus Dugaan Penistaan Agama

Saat ini, PDB AS memang masih yang terbesar di dunia. IMF mencatat PDB AS tahun lalu mencapai 25,04 triliun dolar US. Sedangkan China 18,.32 triliun dolar US. Jepang 4,3 triliun dolar US dan Jerman 4.03 triliun dolar AS. Adapun India nomor lima 3,47 triliun dolar AS. Dan Indonesia, nomor tujuh belas 1,29 triliun dolar AS.

Tapi bagaimana perkembangan PDB dunia mendatang? Menurut IMF ada dua negara yang dalam satu dekade terakhir kenaikan ekonominya sangat tinggi.

Yaitu India, naik 71 persen dan Indonesia 52 persen. Dengan tren kenaikan seperti itu, IMF memprediksi di tahun 2045, komposisi negara yang ekonominya besar akan berubah.

China atau Tiongkok, tulis IMF, adalah negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Kemudian AS terbesar kedua. Disusul India ketiga. Dan Indonesia keempat. Indonesia mengalami lompatan besar, catat IMF, karena faktor melimpahnya kekayaan alam, sumberdaya manusia, dan bonus demografi.

Baca Juga: Jumlah yang Diikuti di Instagram Turun Drastis, Nikita Mirzani Unfollow Fitri Salhuteru

Faktor terakhir inilah yang harus dijaga momentumnya, agar Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia, di atas Jepang, Inggris, dan Prancis.

Di Indonesia, banyak pihak -- terutama kalangan oposan -- mengritik kedekatan Jakarta dengan Beijing. Para pengritik tampaknya belum melihat bagaimana prospek ekonomi dunia masa depan.

China dengan diplomasi ekonominya, terbukti berhasil membangun poros yang makin luas, baik di Afrika maupun Asia. Sedangkan AS -- dengan diplomasi militernya -- membuat aliansinya cemas, karena ekonominya defisit. Gegara AS yang meminjam NATO untuk membonsai Rusia misalnya, kini timbul konflik Rusia versus Ukraina berkepanjangan. Kapan konflik itu selesai, Wallahu a'lam.

Yang jelas, ekonomi dunia suram terimbas konflik tersebut. Konflik Rusia-Ukraina mengganggu rantai pasok perdagangan yang amat luas, terutama migas, pangan, dan pupuk, baik di Eropa maupun Asia. Kedua negara yang konflik itu adalah penghasil utama ketiga komoditas strategis tersebut.

Baca Juga: Selingkuh Pakai Hati, Rendy Kjaernett Tahan Nyeri saat Punggungnya Ditato Wajah Syahnaz Sadiqah

Kembali ke TikTok. AS yang terus terpuruk ekonominya kini ingin kembali berkuasa dan mengangkangi dunia. Tentu saja China tak rela. Maka, Tiktok dan Google pun jadi sasaran perang!***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Yuda Alexander

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Iranian Technology Can Support Free Health Program

Kamis, 27 Februari 2025 | 18:53 WIB

Cara Bersihkan Layar HP, Ada 8 Langkah

Sabtu, 4 Januari 2025 | 13:04 WIB

8 Langkah Mitigasi Serangan Ransomware

Sabtu, 29 Juni 2024 | 18:11 WIB

Arab Saudi Gandeng Hitachi Pasok Listrik ke Neom

Senin, 29 April 2024 | 15:09 WIB
X