Terbukti setelah China datang, konflik itu bisa diselesaikan. Diplomasi damai China di Asia makin mendapatkan apresiasi positif dari dunia internasional yang cinta damai.
Saat ini, PDB AS memang masih yang terbesar di dunia. IMF mencatat PDB AS tahun lalu mencapai 25,04 triliun dolar US. Sedangkan China 18,.32 triliun dolar US. Jepang 4,3 triliun dolar US dan Jerman 4.03 triliun dolar AS. Adapun India nomor lima 3,47 triliun dolar AS. Dan Indonesia, nomor tujuh belas 1,29 triliun dolar AS.
Tapi bagaimana perkembangan PDB dunia mendatang? Menurut IMF ada dua negara yang dalam satu dekade terakhir kenaikan ekonominya sangat tinggi.
Yaitu India, naik 71 persen dan Indonesia 52 persen. Dengan tren kenaikan seperti itu, IMF memprediksi di tahun 2045, komposisi negara yang ekonominya besar akan berubah.
China atau Tiongkok, tulis IMF, adalah negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Kemudian AS terbesar kedua. Disusul India ketiga. Dan Indonesia keempat. Indonesia mengalami lompatan besar, catat IMF, karena faktor melimpahnya kekayaan alam, sumberdaya manusia, dan bonus demografi.
Baca Juga: Jumlah yang Diikuti di Instagram Turun Drastis, Nikita Mirzani Unfollow Fitri Salhuteru
Faktor terakhir inilah yang harus dijaga momentumnya, agar Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat dunia, di atas Jepang, Inggris, dan Prancis.
Di Indonesia, banyak pihak -- terutama kalangan oposan -- mengritik kedekatan Jakarta dengan Beijing. Para pengritik tampaknya belum melihat bagaimana prospek ekonomi dunia masa depan.
China dengan diplomasi ekonominya, terbukti berhasil membangun poros yang makin luas, baik di Afrika maupun Asia. Sedangkan AS -- dengan diplomasi militernya -- membuat aliansinya cemas, karena ekonominya defisit. Gegara AS yang meminjam NATO untuk membonsai Rusia misalnya, kini timbul konflik Rusia versus Ukraina berkepanjangan. Kapan konflik itu selesai, Wallahu a'lam.
Yang jelas, ekonomi dunia suram terimbas konflik tersebut. Konflik Rusia-Ukraina mengganggu rantai pasok perdagangan yang amat luas, terutama migas, pangan, dan pupuk, baik di Eropa maupun Asia. Kedua negara yang konflik itu adalah penghasil utama ketiga komoditas strategis tersebut.
Baca Juga: Selingkuh Pakai Hati, Rendy Kjaernett Tahan Nyeri saat Punggungnya Ditato Wajah Syahnaz Sadiqah
Kembali ke TikTok. AS yang terus terpuruk ekonominya kini ingin kembali berkuasa dan mengangkangi dunia. Tentu saja China tak rela. Maka, Tiktok dan Google pun jadi sasaran perang!***
Artikel Terkait
Opini: Menuju Indonesia Emas Dengan Ekonomi Biru
Opini: Intelijen dan Krisis Moneter di Asia Tahun 1997
Opini: In Memoriam KH Zamroni Irfan, Santri Modern yang Liberal
Opini: Penyakit dalam Jurnalistik
OPINI: Penggalangan Mantan Teroris; Kisah Pendiri JI dr. Najih Ibrahim