Oleh: Saifur Rohman, mantan wartawan Harian Suara Merdeka.
SENAYANPOST - Framing adalah cara jurnalis melaporkan sebuah peristiwa berdasarkan sudut pandang tertentu. Ada informasi yang ditonjolkan, ada informasi yang ditutupi. Jelas ada perbedaan framing antara satu media dengan media lain.
Bukankah framing adalah keniscayaan sebuah laporan dari seorang wartawan sebagai subjek? Benar, tetapi framing dengan presuposisi yang tidak bisa diterima secara logis itu jelas menyesatkan.
Marilah kita melihat bagaimana wartawan melakukan framing terhadap satu berita. Berita yang diangkat adalah pondok pesantren Al-Zaytun dan kiprah Panji Gumilang. Medianya Majalah Tempo dan Detik.
Dua media ini memiliki reputasi yang memadai dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Detik merupakan media online yang menjadi pelopor untuk berita cepat dan akurat. Majalah Tempo adalah media yang memiliki nyali untuk berhadapan dengan penguasa meskipun telah dibredel berkali-kali ketika menjadi cetak.
Baca Juga: Ketika AM Hendropriyono Bercerita Pertama Kali Kenal Panji Gumilang dan Pesantren Al Zaytun
Pertama, framing berita di majalah Tempo. Berita Al-Zaytun menjadi headline dengan judul “Hubungan Panji Gumilang dengan Para Jenderal dan Politikus” (Tempo, 9 Juli 2023).
Di awal kalimat, ditulis, “Begitu dilantik menjadi Kepala Badan Intelijen Negara pada Agustus 2008 Abdullah Mahmud Hendropriyono langsung menyiapkan misi menggalang Panji Gumilang.
Informasi yang diterima Hendro menyebutkan pendiri dan pemimpin Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, itu tengah merekrut kader Negara Islam Indonesia (NII) dengan modus penerimaan santri.”
Kalimat tersebut membawa pada pengertian tentang niat awal Hendropriyono untuk melakukan tindakan mendesak terhadap Al-Zaytun. Hal itu ditunjukkan dengan kata “Begitu dilantik … Hendropriyono langsung menyiapkan”. Ada rencana, niat, bahkan dikatakan sebagai “misi menggalang”.
Kedua, framing berita di Detik. Judulnya “Hendropriyono Bantah ‘Bekingi’ Panji Gumilang: Kekuatan Saya Apa?” (Detik, 19 Juli 2023).
Dalam berita ini Detik melihat secara kronologis. Dimulai dari peresmian yang dilakukan oleh Habibie. Hal itu didasarkan pada fakta saat itu pondok pesantren dinyatakan tidak memiliki ideologi radikal.
Apalagi Menteri Agama menyatakan pada pondok pesantren tidak bermasalah secara ideologis dan politik. Saat itu Hendropriyono menjadi Menteri Transmigrasi. Ketika Megawati menjadi Presiden, Hendropriyono menjadi Kepala BIN.
Artikel Terkait
Ketika AM Hendropriyono Bercerita Pertama Kali Kenal Panji Gumilang dan Pesantren Al Zaytun
Dituding 'Bekingi' Panji Gumilang dan Pesantren Al Zaytun, AM Hendropriyono: Saya Heran Kok Ributnya Sekarang?
Al Zaytun Diresmikan BJ Habibie dan Megawati, AM Hendropriyono Sorot Keributan Saat Ini
Peter Gontha: AM Hendropriyono Itu Menggalang Pesantren Al Zaytun, Karena Mereka Bertentangan dengan NII
Bukan Menakuti-Nakuti, AM Hendropriyono: Polemik Al Zaytun Bisa Jadi Pematik Perang Artificial Intelligence