SENAYANPOST - Beberapa bulan terakhir ini, saya sering melihat satu fenomena yang makin jelas di ruang publik digital.
Saya mengamati, orang-orang mulai memakai jawaban Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bukan buat memperluas pemahaman, tapi justru buat mengunci perdebatan.
Hal ini saya lihat terutama dalam diskusi agama dan politik.
Tak ada angin, tak ada hujan, AI tiba-tiba jadi semacam hakim pamungkas—lengkap dengan kutipan kitab, data sejarah, dan bahasa akademik yang membuat siapa pun sulit untuk membantahnya, apalagi jika hanya pengguna awam.
Fenomena ini jelas tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh di tengah polarisasi tajam, emosi kolektif yang menumpuk, dan kelelahan publik yang sudah bosan dengan debat panjang tak kunjung usai.
AI, yang harusnya jadi alat klarifikasi, malah sering dipakai sebagai stempel legitimasi untuk bias, disinformasi, bahkan ujaran kebencian.
AI Bukan Hakim Netral
Berdasarkan apa yang saya amati, AI bekerja berdasarkan data dan perintah yang kita berikan.
Banyak riset sudah membuktikan, AI tidak netral secara moral.
Kecerdasan buatan itu mudah sekali mengulang bias dari data yang pernah dikumpulkan, memperkuat sudut pandang tertentu, bahkan 'menghaluskan' kesimpulan ekstrem jika pertanyaannya memang sengaja diarahkan ke sana.
Masalah baru muncul. Banyak pengguna memperlakukan jawaban AI seolah-olah itu kebenaran mutlak.
Kutipan panjang, istilah teknis, dan rujukan kitab membuat jawaban AI tampak otoritatif—padahal AI sendiri tidak tahu bedanya perdebatan ilmiah yang sah dan propaganda ideologis.
Saya amati, kecerdasan buatan tidak memiliki mekanisme untuk menahan laju kebencian.
Artikel Terkait
Jadwal Tayang dan Link Nonton Spring Fever Episode 12 Sub Indo, Tayang Terakhir Malam Ini!
Jejak Dugaan Inkonsistensi Abdullah Azwar Anas dalam Pengalihan IUP Tambang Emas Tumpang Pitu Banyuwangi
Mohan Hazian Minta Maaf usai Viral Dugaan Pelecehan terhadap Talent Photoshoot, Akui Khilaf dan Siap Berbenah Diri
Nilai Banyak Orang Salah Persepsi soal Biaya Kesehatan, Dirut BPJS Ali Ghufron Mukti: Dikira Murah, Padahal Mahal
Citrinowicz: Iran sedang 'Tes Ombak', Ruang Kompromi Ada di Isu Nuklir, Bukan Rudal atau Proksi