Ketika AI Menjadi Dalil: Bias, Disinformasi, dan Ujaran Kebencian di Ruang Publik Digital

photo author
Amila Y F, Senayan Post
- Rabu, 11 Februari 2026 | 07:01 WIB
Ilustrasi, menyikapi fenomena AI menjadi dalil, terdapat bias, disinformasi, dan ujaran kebencian di ruang publik digital kini. (Unsplash.com/Igor Omilaev)
Ilustrasi, menyikapi fenomena AI menjadi dalil, terdapat bias, disinformasi, dan ujaran kebencian di ruang publik digital kini. (Unsplash.com/Igor Omilaev)

SENAYANPOST - Beberapa bulan terakhir ini, saya sering melihat satu fenomena yang makin jelas di ruang publik digital.

Saya mengamati, orang-orang mulai memakai jawaban Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bukan buat memperluas pemahaman, tapi justru buat mengunci perdebatan.

Hal ini saya lihat terutama dalam diskusi agama dan politik.

Tak ada angin, tak ada hujan, AI tiba-tiba jadi semacam hakim pamungkas—lengkap dengan kutipan kitab, data sejarah, dan bahasa akademik yang membuat siapa pun sulit untuk membantahnya, apalagi jika hanya pengguna awam.

Fenomena ini jelas tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh di tengah polarisasi tajam, emosi kolektif yang menumpuk, dan kelelahan publik yang sudah bosan dengan debat panjang tak kunjung usai.

AI, yang harusnya jadi alat klarifikasi, malah sering dipakai sebagai stempel legitimasi untuk bias, disinformasi, bahkan ujaran kebencian.

Baca Juga: Nilai Banyak Orang Salah Persepsi soal Biaya Kesehatan, Dirut BPJS Ali Ghufron Mukti: Dikira Murah, Padahal Mahal

AI Bukan Hakim Netral

Berdasarkan apa yang saya amati, AI bekerja berdasarkan data dan perintah yang kita berikan.

Banyak riset sudah membuktikan, AI tidak netral secara moral.

Kecerdasan buatan itu mudah sekali mengulang bias dari data yang pernah dikumpulkan, memperkuat sudut pandang tertentu, bahkan 'menghaluskan' kesimpulan ekstrem jika pertanyaannya memang sengaja diarahkan ke sana.

Masalah baru muncul. Banyak pengguna memperlakukan jawaban AI seolah-olah itu kebenaran mutlak.

Kutipan panjang, istilah teknis, dan rujukan kitab membuat jawaban AI tampak otoritatif—padahal AI sendiri tidak tahu bedanya perdebatan ilmiah yang sah dan propaganda ideologis.

Saya amati, kecerdasan buatan tidak memiliki mekanisme untuk menahan laju kebencian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Amila Y F

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Iranian Technology Can Support Free Health Program

Kamis, 27 Februari 2025 | 18:53 WIB

Cara Bersihkan Layar HP, Ada 8 Langkah

Sabtu, 4 Januari 2025 | 13:04 WIB

8 Langkah Mitigasi Serangan Ransomware

Sabtu, 29 Juni 2024 | 18:11 WIB

Arab Saudi Gandeng Hitachi Pasok Listrik ke Neom

Senin, 29 April 2024 | 15:09 WIB
X