Trunoyudo menyebut beberapa kondisi yang meningkatkan kerentanan anak dan membuat mereka lebih mudah dimasuki narasi ekstrem.
"Hasil asesmen kerentanan anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor sosial seperti apa di antaranya adalah bullying dalam status sosial, broken home dalam keluarga, kemudian kurang perhatian keluarga, pencarian identitas jati diri," jelas Trunoyudo.
Menurutnya, pelaku memanfaatkan kondisi emosional ini untuk membangun kedekatan, memberikan perhatian semu, lalu menyusupkan doktrin kekerasan dan ideologi ekstrem.
Ruang digital menjadi lahan yang ideal bagi kelompok tersebut untuk berinteraksi tanpa pengawasan orang tua.
2 Tersangka Dewasa Ditangkap sebagai Perekrut dan Pengendali
Trunoyudo juga mengungkap adanya dua tersangka dewasa yang diduga menjadi otak perekrutan anak dalam jaringan tersebut.
Kedua tersangka berperan sebagai perekrut sekaligus pengendali komunikasi kelompok.
"Penindakan terbaru dilakukan pada 17 November 2025 dengan menangkap, dua tersangka dewasa yang berperan sebagai perekrut dan pengendali komunikasi kelompok," pungkasnya.
Penangkapan itu disebut sebagai bagian dari upaya terstruktur Polri untuk memutus mata rantai rekrutmen dan melindungi anak-anak dari paparan lebih jauh.***
Artikel Terkait
Densus 88 Bongkar Terduga Pelaku Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Bawa 7 Peledak, Meletus di 2 Lokasi
Prabowo Kaji Pembatasan Game PUBG, Gubernur DKI Jakarta Beri Dukungan Penuh Pascainsiden SMAN 72 Kelapa Gading
Gubernur DKI Pastikan Tak Ada Bullying di SMAN 72 Kelapa Gading, Sebut Pelaku Ledakan Terpengaruh Tayangan
Polda Metro Jaya Ungkap Fakta Baru Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta
Pemulihan Trauma Siswa SMAN 72 Jakarta Masih Berjalan, Mendikdasmen Sebut Fokus Penyembuhan Kondisi Psikis