Ekstremisme Tanpa Bom
Ekstremisme digital tidak selalu pakai senjata; cukup dengan mematikan rasa malu dan empati.
Di ruang virtual, orang bisa merasa berjihad cukup dengan menghina, mengkafirkan, dan menyebar potongan video setengah menit.
Dan setiap kali ada yang melawan dengan akal sehat, mereka tuduh 'liberal' atau 'agen Barat'.
Padahal justru dengan cara itu mereka jadi alat sempurna bagi siapa pun yang ingin membuat Islam tampak menakutkan.
Penutup: Nyalakan Akal, Redam Amarah
Banyak orang terseret bukan karena jahat, tapi karena tulus dan ingin mencari kebenaran.
Sayangnya, di dunia digital niat baik tanpa nalar sering jadi pintu kehancuran.
Islam tidak melarang berpikir, tapi melarang kebencian. Dan melawan propaganda tidak perlu senjata—cukup dengan akal sehat yang tidak mudah ditakut-takuti.
Kadang yang paling keras melawan konspirasi, justru yang paling patuh pada naskah konspirasi.***
Artikel Terkait
Polisi Pastikan 2 Kerangka di Kwitang Demonstran yang Hilang Saat Demo Agustus 2025
Belum Ada Proses Penahanan 8 Orang Tersangka Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Polisi Masih Beri Waktu Klarifikasi
Kronologi Penemuan Bilqis, Diculik saat Main ke Playground hingga Sempat Diaku Keluarga oleh Warga Suku Anak Dalam
Densus 88 Bongkar Terduga Pelaku Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Bawa 7 Peledak, Meletus di 2 Lokasi
Ratas dengan Prabowo, Prasetyo Hadi Sebut soal Pembatasan Game Online Imbas Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading