Inilah jebakan klasik ekstremisme digital. Teori konspirasi dijadikan pintu masuk ideologis, bukan karena faktanya kuat, tapi karena membangkitkan rasa curiga dan heroisme palsu.
Begitu seseorang merasa 'paling tahu rahasia dunia', ia lebih mudah diarahkan pada ideologi yang menawarkan jawaban sederhana: "Semua ini karena musuh Islam".
Masalahnya, jawaban sederhana itu selalu butuh kambing hitam—dan targetnya jarang ke luar.
Yang pertama dituduh kafir justru Muslim lain yang berbeda pandangan.
Dari Kecurigaan ke Takfir
Setelah rasa curiga tumbuh, datang tahap berikutnya: pembenaran religius.
Ayat, hadits, dan nama ulama besar dikutip sebagian, diubah konteksnya, dan dipakai untuk meneguhkan kebencian.
Tiba-tiba muncul istilah 'thaghut', 'murtad', dan 'munafik' sebagai senjata, bukan sebagai peringatan moral.
Inilah titik di mana teori konspirasi berubah jadi alat takfir—menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang dianggap musuh agama.
Kaset Bush dan Cheney dalam Versi Baru
Ironinya, narasi yang mereka sebar sebenarnya barang impor lama dari era Bush–Cheney, ketika dunia diperkenalkan pada 'War on Terror'.
Waktu itu, Washington butuh dunia Islam yang terpecah; dan kini, dua dekade kemudian, sebagian umat dengan sukarela meneruskan naskah itu di Telegram.
Mereka teriak 'anti-Barat', tapi kaset yang diputar masih sama. Sudah jadul, impor lagi.
Artikel Terkait
Polisi Pastikan 2 Kerangka di Kwitang Demonstran yang Hilang Saat Demo Agustus 2025
Belum Ada Proses Penahanan 8 Orang Tersangka Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Polisi Masih Beri Waktu Klarifikasi
Kronologi Penemuan Bilqis, Diculik saat Main ke Playground hingga Sempat Diaku Keluarga oleh Warga Suku Anak Dalam
Densus 88 Bongkar Terduga Pelaku Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading Jakarta Bawa 7 Peledak, Meletus di 2 Lokasi
Ratas dengan Prabowo, Prasetyo Hadi Sebut soal Pembatasan Game Online Imbas Insiden Ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading