Kemarau Panjang dan Kebakaran Hutan (Laporan Sesdalopbang RI 1996-1998)

photo author
Hanggi Martyas Laksono, Senayan Post
- Kamis, 19 Maret 2026 | 21:10 WIB
AM Hendropriyono mantan Kepala BIN (Tangkapan layar YouTube Rhenald Kasali)
AM Hendropriyono mantan Kepala BIN (Tangkapan layar YouTube Rhenald Kasali)

Oleh: Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. AM Hendropriyono

SENAYANPOST - Pendahuluan: Indonesia kembali memasuki siklus tahunan yang patut diwaspadai, yaitu kemarau panjang yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Fenomena ini bukan hal baru yang dalam pengalaman sejarah pembangunan nasional khususnya pada periode 1996–1998, kebakaran hutan pernah mencapai skala besar yang berdampak tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada ekonomi, kesehatan publik, dan hubungan diplomatik kawasan.

Sebagai negara dengan ekosistem tropis luas, Indonesia berada dalam posisi unik yang di satu sisi rentan terhadap kebakaran, di sisi lain sering menjadi objek tekanan internasional yang tidak proporsional.

Fenomena Alam atau Kesalahan Manusia?

Baca Juga: AM Hendropriyono Ungkap Soemitronomics adalah Formula Tepat Hadapi Dampak Perang di Timur Tengah

Secara ilmiah kebakaran hutan di Indonesia merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor alam El Niño dan anomali iklim global.

Kekeringan yang berkepanjangan membuat gambut mudah terbakar. Adapun faktor manusia berupa pembukaan lahan dengan cara tebas-bakar, kelalaian industri perkebunan dan lemahnya pengawasan tata ruang.

Namun pengalaman lapangan menunjukkan bahwa pada tahun 1997–1998 faktor alam memainkan peran dominan, yang fenomena El Niño demikian kuat sehingga menyebabkan kekeringan ekstrem di seluruh Asia Tenggara.

Dengan kata lain tidak semua kebakaran dapat disederhanakan sebagai “kesalahan manusia”.

Pendekatan yang terbukti efektif saat itu adalah:
1. Pengurangan Penjalaran ( _Containment Strategy_ ). Alih-alih memadamkan seluruh titik api yang secara teknis sulit, strategi difokuskan pada membuat sekat bakar ( _firebreak_ ), mengisolasi wilayah rawan dengan prioritas pada kawasan-kawasan vital.

Pendekatan ini realistis karena berbasis pada keterbatasan sumber daya.

2. Mobilisasi Lokal yang melibatkan masyarakat sekitar, koordinasi lintas aparat (TNI-Polri, Pemda, Kehutanan).

3. Kebakaran dipahami sebagai fenomena sistemik yang memerlukan pembacaan cepat (velox) dan tepat (exactus), yang bukan sekadar hanya reaksi administratif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi Martyas Laksono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X