Bedanya, angkatan perang ke-4 punya sifat komando. Sedangkan organisasi yang dimiliki Indonesia soal penanganan perang siber hanya organisasi staf.
"Angkatan perang siber, khusus untuk perang, dan diisi 90 persen sipil yakni para hacker atau peretas terpilih," kata Hendropriyono.
Sedangkan badan intelijen di Indonesia, umumnya justru mengurusi aspek lain seperti ekonomi dan politik.
Hendropriyono pun mengatakan Indonesia sepatutnya sadar bahwa era sekarang sudah berubah, dan tak boleh disikapi secara diam.
Apalagi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence kian menyulitkan membedakan mana hoaks dan mana yang benar.
“Kita harus sadar bahwa kita ini berada di era yang seperti ini, dan kita tidak bisa diam saja. Tiba - tiba kita diserang kita tidak bisa berbuat apa-apa, jangan kan bertahan, kita nggak bisa menyerang balas,” pungkas Hendropriyono.***
Artikel Terkait
AM Hendropriyono Hadiri Acara Pelantikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2024-2029, Desty Damayanti
Apresiasi AM Hendropriyono, Gus Barra Siap Restorasi Peradaban Majapahit di Mojokerto
Judi Online Merajalela, AM Hendropriyono Sebut Pemerintah Bisa Tiru Upaya Malaysia
AM Hendropriyono Sempat Prediksi Chaos Usai Pengumuman Pilpres 2024, Sosok Ini Jadi Pendekarnya
Ketika Prabowo Subianto Memuji AM Hendropriyono
Tegaskan Pentingnya Angkatan Siber, AM Hendropriyono Terima Perwakilan Mabes TNI