Saya pernah mendapat kuliah Ekonomi dan Lingkungan di Chiangmei, Thailand dari Dr. Rizal Ramli, saat menjadi peserta Leadership for enviromental and Development tahun 1995, dan saya mengagumi pikiran-pikirannya.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu Kecam Keras Afrika Selatan Gegara Tuntutan Kejahatan Genosida Israel
Bagi Rizal developmentalism yang disetir IMF, World Bank, dan Washington sama bahayanya dengan oligarki yang menghancurkan bangsa dan negara.
Soeharto yang pernah dicakar Rizal Ramli -- pinjam Eep Saifulloh Fatah -- butuh 32 tahun untuk mengambrukkan Indonesia. Rejim Jokowi hanya butuh 9 tahun untuk menghancurkan Nusantara, dengan menumpuk utang yang luar biasa dan membunuh hukum dan demokrasi.
Dari tahun ke tahun, rakyat Indonesia menjerit karena harga kebutuhan pokok yang terus melejit. Senayan dan Istana berpoya-poya menghamburkan uang rakyat. KPK dikebiri, Mahkamah Konstitusi dihabisi, dan seluruh infrastruktur negara dipakai rejim Jokowi untuk membangun dinasti.
Indonesia adalah negara kaya sumberdaya alam. Dan seharusnya kitalah yang berdaulat untuk mengelola sumberdaya alam milik kita. Bukan World Bank dan bukan kreditor kreditor Cina yang mengendalikannya. Juga bukan oligark yang dipelihara rejim penguasa. Dan bukan pula konglomerat yang menghisap darah rakyat yang memporak-porandakan negara.
Baca Juga: Spoiler One Piece 1103: Petunjuk Penting Sosok Ayah Biologis Jewelry Bonney
Menyedihkan nasib bangsaku di tangan rejim tidak tahu malu. Yang mengacak acak sistem pemilu.
Di tengah suasana kacau itulah, Sang Rajawali pergi untuk selamanya. Ia terbang ke alam keabadian di saat rakyat Indonesia sangat membutuhkan cakarnya untuk membunuh oligark, despot, dan penguasa serakah yang sedang menghancurkan negara dan bangsa.
Kepergiaanmu, Sang Rajawali, memberikan legasi dan energi untuk menumbangkan angkara murka di negeri ini. Selamat Jalan Sang Guru, Rajawali Rizal Ramli. Semoga Tuhan Yang Maha Adil menempatkanmu di surga abadi.***
Artikel Terkait
Rizal Ramli dan Amien Rais Bersama Koalisi KPI Desak KPK Pemberantasan KKN
Opini: Demokrasi dan Pilihan Rakyat
Opini: Cinta yang Tak Sampai kepada Gadis, Anak dari Tokoh yang Dicap Aktivis PKI
Opini: Geert Wilders Menang, Islam di Belanda Meradang
Opini: Haul Gus Dur di Tengah Badai Kehancuran Hukum dan Demokrasi
Opini: Mempertanyakan Komitmen EBT dan Emisi Karbon Nol
Opini: Mengakhiri Tahun 2023 dengan Catatan Buruk HAM Dunia