Kepemimpinan Bangsa Pribumi

photo author
AM Hendropriyono, Senayan Post
- Minggu, 10 Desember 2023 | 16:17 WIB
AM Hendropriyono
AM Hendropriyono

SENAYANPOST - Ketika imperium Hindu-Budha Majapahit yang berpusat di Jawa Timur berdaulat di seluruh Asia Tenggara, dan memegang hegemoni di lautan yang luasnya antara samudera Hindia dengan laut Arafura di utara Australia pada tahun 1293-1527.

Kaum kapitalis bangsa Eropa masih sibuk mencari di mana gerangan letaknya India, dan perintis mereka Christopher Columbus baru menemukan Amerika yang mereka kira India pada tanggal 14 Agustus 1498.

Karenanya penduduk di sana kemudian mereka perkenalkan ke dunia internasional sebagai orang-orang Indian, rombongan lain yang juga perintis kaum kapitalis Eropa yang masuk ke Nusantara kita berturut-turut adalah bangsa Portugis, yang dipimpinan oleh Alfonso de Albuquerque pada tahun 1511.

Rombongan bangsa Spanyol ke Tidore pada tahun 1521, dan bangsa Belanda pimpinan Cornelis de Houtman ke Banten pada tanggal 27 Juni 1596.

Baca Juga: AS Ingatkan Israel soal Warga Sipil Gaza, Sebut Ada Kesenjangan Niat dan Hasil

Sejak kedatangan para perintis tersebut yang dilengkapi dengan pasukan bersenjata api untuk mencari kekayaan (Gold), ketenaran nama (Glory) dan penebaran agama Kristen (Gospel) kemudian bergabung dengan para pengkhianat bangsa kita, menerapkan strategi Devide et Empera (adu domba) antara umat beragama Hindu-Budha, dengan umat Islam yang agamanya mulai masuk ke Indonesia menurut penelitian ahli sejarah WF Stutterheim sejak abad ke 13.

Semakin gencarnya kedatangan kaum kapitalis bersenjata api dari Eropa tersebut, dengan alasan semula untuk berdagang rempah-rempah dan hasil kolaborasinya tersebut, maka kerajaan Majapahit yang merupakan imperium terbesar di Asia Tenggara selama 234 tahun mulai goyah, dan akhirnya runtuh sehingga sampai kini nyaris tak berbekas.

Kapitalis Belanda yang didominasi oleh perusahaan swasta multinasional VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), atau kompeni bangsa Belanda dengan kekerasan merebut hegemoni perdagangan di seluruh Nusantara, namun setelah mengalami kebangkrutan pada tanggal 31 Desember 1799, berangsur-angsur secara politik dan kekuatan bersenjata akhirnya Pemerintah Belanda mengambil alih kekuasaan VOC dan menerapkan kolonialismenya di Indonesia.

Mereka menghapuskan adanya kasta-kasta di dalam masyarakat Hindu Indonesia, sesuai dengan azas kesetaraan dalam liberalisme, namun ironisnya kasta yang rendah dan terendah yaitu Sudra dan Paria telah dikesankan sebagai masyarakat budak yang biadab di berbagai media internasional.

Baca Juga: Opini: KTT Iklim Dubai Mencari Solusi dengan Kolaborasi, Bagaimana Indonesia?

Dengan agitasi dan propaganda demi mengangkat derajat sosial bangsa Indonesia menjadi beradab, pemerintahan Inggris dan Belanda secara bergantian telah mendapatkan pembenaran dunia untuk menerapkan kolonialisme di negara kita (1596-1942), yang mendadak berubah karena digantikan sebentar oleh Jepang (1942-1945) usai Perang Dunia ke 2.

Kolonialis Belanda pada tahun 1848 telah membagi masyarakat Indonesia atas bangsa Eropa dan bangsa pribumi, kemudian diskriminasi tersebut berkembang menjadi bangsa Eropa dan bangsa Timur Asing yaitu bangsa Arab, bangsa China, bangsa India yang datang berdagang ke Indonesia sejak tahun 1920, serta bangsa pribumi Hindia-Belanda yang dinamakannya dengan konotasi direndahkan sebagai bangsa Inlander.

Bangsa Pribumi atau Inlander yang kini bernama Indonesia, terdiri dari suku-suku bangsa asli mulai dari paling barat yaitu suku bangsa Aceh, sampai dengan di paling timur suku bangsa Papua, dan mulai dari paling utara suku bangsa Miangas Minahasa, sampai dengan yang di paling selatan suku bangsa Rote di Nusa Tenggara Timur.

Suku-suku bangsa pribumi Indonesia tersebut mempunyai hak-hak yang sangat terbatas, seperti halnya bangsa Indian di Amerika, bangsa Aborijin di Australia dan bangsa Maori di New Zealand.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X