Kepemimpinan Bangsa Pribumi

photo author
AM Hendropriyono, Senayan Post
- Minggu, 10 Desember 2023 | 16:17 WIB
AM Hendropriyono
AM Hendropriyono

Baca Juga: Polisi Pidie Selidiki Kasus Penyelundupan Etnis Rohingya, Pelaku Raup Untung hingga Rp3,3 Miliar

Bahkan di Indonesia suku-suku bangsa asli Indonesia amat sangat dihina, tercermin dari banyaknya terdapat di ruang publik papan-papan yang bertuliskan : Verboden voor honden en inlander, yang artinya “Dilarang untuk anjing dan pribumi.”

Di media dunia maupun lokal juga selalu terpampang berita dan foto-foto, tentang bangsa Indonesia yang melarat dan terlihat bodoh, seperti yang terpampang pada koran majalah Bintang Hindia terbitan tahun 1905.

Orang-orang asing itu ingin melenyapkan bangsa pribumi Indonesia, dan menggantikannya dengan bangsa mereka sebagai penduduk yang dominan di Indonesia.

Hal tersebut terbukti oleh sejarah bahwa bangsa Amerika, Australia dan New Zealand yang kita kenal sekarang, sejatinya adalah orang-orang keturunan asing yang bermigrasi dari masa ke masa.

Baca Juga: رئيس المخابرات الأسبق يلتقي بوزير الدفاع ويأمل أن تكون انتخابات 2024 سلمية وهادئة وصادقة

Bangsa asing sebagai imigran datang ke Indonesia, gelombang demi gelombang dengan perilaku sosial yang berbeda, misalnya bangsa Arab Hadramaut yang berasal dari Yaman yang datang pada abad ke 19, dan juga sesudahnya yaitu imigran Arab gelombang ke tiga.

Mereka tidak banyak yang mau berasimilasi dengan bangsa pribumi Indonesia, sehingga berbeda dengan gelombang migrasi bangsa Arab sebelumnya.

Para pendatang gelombang pertama adalah pada abad ke 7, gelombang ke dua pada abad ke 14 dan gelombang ke tiga pada abad ke 18.

Bangsa Arab pendatang gelombang ke tiga di abad ke 18 dan sesudahnya, tetap mempertahankan nama-nama marga asli bangsanya seperti nama marga Al-Gadri, Al-Aydrus, Al-Habsyi, Al-Attas, Al-Jufri, Shahab, Syihab, Assegaf, Baswedan dan lain-lain.

Baca Juga: Mantap, Seluruh Sepeda Motor Honda Garansi Rangka 5 Tahun Tanpa Batas Kilometer

Namun demikian pengaruh bangsa Arab di bidang kebudayaan cukup signifikan, karena dipermudah dengan kegiatan mereka menebarkan agama Islam, yang sejatinya sudah dianut oleh bangsa Indonesia sejak zaman Wali Songo di abad ke 14.

Kesultanan Arab di zaman kolonial Belanda, dengan Sultan ke 7 (tujuh) yang berkuasa di kota Pontianak bernama Hamid Algadri II, diangkat oleh penjajah Belanda sebagai Ajudan Istimewa Ratu Belanda dengan pangkat Jenderal Mayor.

Untuk politik adu dombanya pada tanggal 23 Oktober 1771, kolonialis Belanda selain mendukung berdirinya Kesultanan Arab di Pontianak, juga memberi kekuasaan yang semakin besar kepada “Republik Kecil” para Kapitalis bangsa Cina penambang emas di kabupaten Monterado Kalimantan-barat.

Pada tahun 1776 mereka bahkan semakin bebas untuk mengatur Pemerintahan, Keamanan dan Badan Peradilan serta benderanya sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Hanggi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X