Oleh: Sapri Sale, Pengajar Bahasa-Bahasa Semit (Arab, Ibrani dan Suryani) dan Guru Madrasah Aliyah Negeri 4 Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Dalam sejarah panjang peradaban, bahasa tidak pernah berdiri sebagai alat yang netral. Ia tumbuh bersama kekuasaan, membentuk persepsi, dan sering kali menentukan siapa yang didengar dan siapa yang dibungkam. Dari mimbar-mimbar kuno hingga layar televisi global hari ini, bahasa menjadi medan sunyi tempat peradaban saling berhadapan—tanpa dentuman, namun dengan dampak yang tak kalah dahsyat.
Bahasa adalah senjata halus: ia dapat meluruskan, tetapi juga membelokkan; dapat menjelaskan, tetapi juga menyamarkan. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemenangan tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh kemampuan menguasai narasi.
Dalam eskalasi konflik yang berlangsung selama empat puluh hari minggu lalu, yang melibatkan Iran versus Israel-Amerika, Iran tidak hanya bertempur di medan militer, tetapi juga di medan bahasa alias narasi global. Di tengah pusaran opini internasional, muncul dua figur intelektual di Iran yang memainkan peran penting sebagai juru bicara tak resmi: Prof. Seyed Mohammad Marandi, pendiri Institut Studi Amerika Utara dan Eropa di Universitas Teheran, dan Dr. Hassan Ahmadian, Asisten Profesor Studi Timur Tengah dan Afrika Utara di Universitas Teheran. Mereka adalah dua sisi mata uang yang sama: sama-sama cendekiawan, sama-sama patriotik, namun dengan persenjataan linguistik yang berbeda—dan mematikan.
Keduanya tidak sekadar berbicara; mereka mewakili. Mereka tidak hanya menjelaskan posisi negaranya, tetapi juga menerjemahkan Iran ke dalam dua bahasa besar peradaban: Inggris dan Arab. Melalui mereka, Iran hadir dalam dua wajah—rasional di hadapan Barat, dan emosional-historis di hadapan dunia Arab.
Bahasa sebagai Senjata Peradaban
Sebagai pengajar bahasa-bahasa Semit—Arab, Ibrani, dan Suryani—saya melihat bahwa setiap bahasa membawa beban sejarah dan orientasi geopolitik. Bahasa Inggris adalah bahasa kekuasaan global modern atau ‘lingua franca’ -memiliki kemiripan dengan peran yang pernah dialami oleh bahasa Suryani (Syriac) pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi, sementara bahasa Arab saat ini adalah bahasa emosi, identitas, dan solidaritas kawasan wilayah Asia Barat.
Iran memahami ini dengan sangat baik.
Di satu sisi, Sayyid Mohammad Marandi tampil sebagai “wajah Iran” di media Barat. Ia adalah profesor di Universitas Teheran yang dikenal luas karena kefasihannya dalam bahasa Inggris serta kemampuannya berdebat di saluran internasional seperti BBC, CNN, Sky News dan podcast lainnya . Dalam berbagai wawancara selama perang, ia menekankan narasi bahwa Iran bukan pihak agresor, melainkan korban dari tekanan geopolitik Barat dan sekutunya.
Lebih dari sekadar kefasihan, Marandi menguasai retorika Barat. Ia memahami bagaimana publik Barat berpikir—dan bagaimana cara menggugatnya dari dalam bahasa mereka sendiri.
Dalam satu wawancara terbaru selama perang, Marandi menggambarkan konflik ini sebagai ujian terhadap ketahanan Iran, namun juga sebagai bukti kegagalan kalkulasi pihak lawan. Ia menegaskan bahwa serangan justru memperkuat solidaritas internal Iran, bukan melemahkannya .
Di sinilah letak kekuatan bahasa: Marandi tidak hanya berbicara tentang Iran—ia berbicara kepada dunia Barat, menggunakan kerangka berpikir yang mereka pahami.
Ia menjembatani jurang antara “Iran yang dilihat Barat” dan “Iran yang ingin dipahami Iran”.Marandhi mampu membungkus kekuatan artikulasi bahasa dengan sangat elegan kepada dunia Barat.