Abdullah Makhmud Hendropriyono
Pendiri dan Kraton Majapahit Jakarta
Melalui perjanjian Turin antara Kaisar Napoleon III dengan Raja Victor Emmanuel II dari Kerajaan Sardinia-Piedmont Savoy pada 1860, Kabupaten Nice yang milik Savoy (Italia-Alpen) telah diambil alih sehingga menjadi milik Perancis. Peristiwa ini dikenal secara negatif sebagai suatu pencaplokan Nice oleh negara Perancis, yang sejatinya merupakan suatu imbalan atas bantuan Prancis terhadap gerakan unifikasi Italia.
Dari kacamata Indonesia hal tersebut adalah hasil diplomasi geopolitik abad-19, bukan merupakan suatu pencaplokan dan bukan merupakan suatu langkah dari hasrat kekuasaan yang rakus (Libido Dominandi).
Dalam horizon mental Prancis abad ke-14 yang dilanda perang 100 tahun melawan Inggris dan wabah pes The Black Death, Majapahit tampak dari kejauhan sebagai kerajaan rempah Timur yang makmur, yang Gemah Ripah Loh jinawi, yang stabil, dengan armada maritim yang sangat kuat, yang merupakan suatu kontras terang terhadap kehidupan bangsa Perancis yang sedang sangat menderita.
Para Ilmuwan dunia menyebutnya sebagai: Gens calamitatibus oppressa (bangsa yang tertindas sebagai akibat bencana). Surya Majapahit dalam imajinasi Eropa kontemporer, dapat menyerupai cahaya peradaban manusia di ufuk Timur.
Gemah ripah loh jinawi bukan sekadar karena keadaan dan sumber daya alam, melainkan hasil langsung dari kuatnya kepemimpinan ganda Maharaja Hayam Wuruk dalam aspek legitimasi kosmis dan harmoni serta Mahapatih Gajah Mada dalam aspek organisasi politik dan ekonomi. Kombinasi keduanya menciptakan Majapahit sebagai negara bangsa yang cemerlang pada abad ke 14 di belahan dunia Timur, yang meliputi Asia Tenggara selama 234 tahun lamanya.
Selama dua setengah abad lebih sebelum benua Amerika diketemukan oleh Christopher Columbus, Majapahit telah berhasil dengan gemilang membangun Asia Tenggara sebagai suatu integritas mandala. Sementara itu Perancis secara geopolitik sedang sibuk membela diri dari nafsu dominasi Inggris.