Dr KH Agus Maftuh Abegebriel
Dubes RI untuk Arab Saudi 2015 - 2021
Awal Januari 2025, tetiba saya dihubungi kawan saya di Jakarta dengan sebuah pesan saya diminta untuk menjadi kontributor penulisan sebuah buku tentang Presiden Prabowo. Buku tersebut bertitelkan; Islam ala Prabowo. Saya tidak langsung menyanggupi permintaan tersebut karena terus terang saya grogi dan tak layak menulis narasi berat tersebut, lebih-lebih saya diminta untuk menyoroti dari aspek diplomasi internasional yang akan dilakukan oleh Prabowo.
Saya lihat penulisnya orang-orang hebat, ada Prof Yusril, Prof Jenderal Hendropriyono, Prof Asep Saifuddin, Kyai Asad Said Ali, Prof Said Agil Siradj, Prof Noor Achmad, Mas Ahmad Muzani, Prof Muhadjir Effendi, Prof Mukti, Zuhair Al Syun (Dubes Palestina untuk Indonesia), Jurnalis expert Imam Anshari dan orang-hebat lainnya. Saya yang hanya guru kampung yang tak hebat merasa tak layak untuk ikut menjadi kontributor buku yang mendeskripsikan Presiden Prabowo tersebut.
Setengah bulan berikutnya, saya belum bisa menyanggupi permintaan tersebut hingga pada akhirnya kawan saya menghubungi saya dengan mengatakan; Kang Maftuh, sampean adalah saksi hidup efforts dan perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan Palestina. Sampean adalah Wakil Tetap (permanent representative) pertama yang dimiliki oleh Republik Indonesia di OKI (Organisasi Kerjasama Islam) yang didirikan untuk membela Palestina. Sejak OKI berdiri 1969, Republik Indonesia baru mempunyai Wakil Tetap (Watap) pada tahun 2016, dan Watap itu adalah sampean. Sampean harus menulis pengalaman selama 6 tahun menjadi Watap RI.
Memang benar Indonesia telah lama aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Pada tahun 1969, seorang ulama asal Kraksaan, Probolinggo, KH. Moh Ilyas, memimpin delegasi Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi di Rabat, Maroko. Tujuan utama konferensi itu adalah menginisiasi pendirian sebuah organisasi internasional yang fokus pada perjuangan Palestina. Dari pertemuan itu, lahirlah Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang kini dikenal sebagai Organisasi Kerjasama Islam.
Ketika ditugaskan sebagai Wakil Tetap Indonesia di OKI, saya menyerahkan surat kepercayaan kepada Sekjen OKI saat itu, YM. Iyad Amin Madani. Komentar beliau cukup mengejutkan. Ia mengatakan bahwa setelah sekian lama, akhirnya Indonesia memiliki perwakilan tetap di OKI. Saya pun kaget. Ternyata sejak OKI berdiri tahun 1969, Indonesia baru menempatkan wakil tetapnya setelah 46 tahun berlalu.
Sentilan kawan saya tersebut akhirnya menjadi trigger bagi saya untuk memberanikan diri menulis tema berat di buku tersebut. Tulisan saya berjudul “PRABOWO DAN FAST TRACK DIPLOMACY” sepanjang 15 halaman.
Tulisan tersebut terbagi menjadi beberapa tema. Mulai dari tema “mendefiniskan mazhab Prabowo”, disusul dengan tema “Prabowo dan Dunia Arab”, “Membumikan Islam Moderat” dan saya pungkasi dengan tema “Prabowo Tetangga Palestina”.
Lalu kenapa ada tema “Prabowo Tetangga Palestina”? karena Saya yakin Prabowo tidak perlu membaca catatan atau membuka jurnal untuk memahami situasi Palestina. Ia sudah sangat mengenal isu ini sejak lama.
Prabowo pernah tinggal cukup lama di Yordania, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan Palestina. Ia tidak hanya memahami peta politik kawasan ini secara teoritis, tetapi juga melihat dan merasakan langsung realitas yang ada di sana.
Tajwid dan I’rab Diplomasi
Aksi gebrak podium Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB, dalam pandangan saya adalah merupakan aplikasi dari kaidah-kaidah tajwid (ilmu cara baca huruf al-Qur’an) dan I’rab (esensi gramatikal arab) dalam diplomasi baik bilateral (tsuna’iyyah) ataupun multilateral (muta’adidul atraf) seperti di PBB tersebut.