Dengan langkah-langkah seperti reformasi pajak progresif, subsidi tepat sasaran, dan kebijakan karbon hijau, Purbaya berupaya menyeimbangkan antara pertumbuhan, pemerataan, dan keberlanjutan.
Prediksi Intelijen Ekonomi
Jika konsistensi kebijakan Purbaya terjaga, Indonesia berpotensi membangun model ekonomi hibrida yang memadukan:
- Disiplin teknokratik ala Sumitro – untuk menjaga fondasi fiskal dan daya saing industri.
- Keadilan sosial ala Mubyarto – untuk menjamin kesejahteraan rakyat dan pemerataan pembangunan.
- Kritik etis ala Stiglitz – untuk memastikan bahwa ekonomi global tetap berpihak pada manusia, bukan korporasi.
Penutup
Gebrakan Menkeu Purbaya bisa menuntun Indonesia menuju kemandirian fiskal, pemerataan sosial, dan inovasi hijau, menjadikannya contoh negara berkembang yang sukses menggabungkan pasar dan moralitas.
Purbaya tampil bukan sekadar teknokrat klasik yang mengejar angka pertumbuhan, tetapi sebagai reformis moral ekonomi yang mengembalikan arti pembangunan kepada rakyat.
Ia menunjukkan bahwa Indonesia tidak harus memilih antara pasar bebas atau etatisme total, melainkan bisa menempuh jalan tengah yang berkeadilan dan berdaulat.
Dengan arah ini, masa depan ekonomi Indonesia dapat dibangun di atas tiga pilar utama:
- Efisiensi pasar,
- Peran negara yang kuat,
- Keadilan sosial sebagai panglima.
Daftar Referensi:
(1) Ali Wardhana, Emil Salim & Widjojo Nitisastro. (1973). Stabilization and Development in Indonesia. Jakarta: Ministry of Finance of the Republic of Indonesia.
(2) Basri, M. Chatib. (2020). Ekonomi Indonesia di Era Disrupsi. Jakarta: Gramedia.