Itulah titik yang membuka mata saya. Bahwa narasi waras—yang berpijak pada tradisi Islam klasik dan rasionalitas modern—masih punya tempat. Ia hanya perlu disuarakan.
Baca Juga: Mantan Menkeu Yaman Tanggapi AM Hendropriyono, Sebut Amerika Kalah di Perang Dagang
Islam bukan milik mereka yang paling keras berteriak. Islam adalah agama ilmu.
Lihatlah warisan keilmuan kita: dari logika Imam Fakhruddin Ar-Razi, etika Imam Nawawi, hingga strategi dakwah Wali Songo yang penuh kebijaksanaan.
Semua itu menunjukkan bahwa Islam tumbuh dan menang bukan karena emosi, tapi karena akal, hikmah, dan adab.
Perlawanan terhadap ekstremisme hari ini tidak selalu harus dengan stempel radikalisme atau laporan ke platform.
Terkadang, cukup dengan diskusi yang masuk akal dan menunjukkan bahwa menjadi waras itu bukan berarti kompromi.
Baca Juga: AM Hendropriyono: 印尼将能够在全球经济战中生存下来
Justru itu bentuk paling murni dari jihad intelektual.
Dan siapa tahu, dari percakapan-percakapan kecil itulah, peradaban dimulai kembali.***